Kisah Perjuangan Warga Gendayakan Wonogiri Merdeka dari Kekeringan, Berawal dari Kerja Persaudaraan

Peningkatan distribusi air dari Goa Jomblang mampu menghasilkan 144 ribu liter air perhari yang bisa memenuhi kebutuhan 2.071 jiwa di Desa Gendayakan.

Ronald Seger Prabowo
Rabu, 23 Agustus 2023 | 19:18 WIB
Kisah Perjuangan Warga Gendayakan Wonogiri Merdeka dari Kekeringan, Berawal dari Kerja Persaudaraan
Kerja persaudaraan yang digagas sejak tahun 2019 oleh warga Desa Gendayakan, Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam GAPADRI dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Padasuka (Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga) dan Djarum Foundation sukses mengangkat dan mendistribusikan air dari Goa Jomblang, Desa Gendayakan, Paranggupito, Wonogiri, Jawa Tengah. [Suara.com/dok]

SuaraSurakarta.id - Kerja persaudaraan yang digagas sejak tahun 2019 oleh warga Desa Gendayakan, Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam GAPADRI dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Padasuka (Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga) dan Djarum Foundation sukses mengangkat dan mendistribusikan air dari Goa Jomblang, Desa Gendayakan, Paranggupito, Wonogiri, Jawa Tengah. 

Tahun ini, upaya peningkatan distribusi air dari Goa Jomblang mampu menghasilkan 144 ribu liter air perhari yang bisa memenuhi kebutuhan 2.071 jiwa di Desa Gendayakan.

Hingga Agustus 2023, air dari Goa Jomblang tersebut sudah disalurkan ke 720 warga di empat dusun yakni Dusun Ngejring, Gendayakan, Blimbing dan Pucung. Upaya tersebut berhasil memerdekakan warga desa dari kekeringan.

Pasalnya, dengan kontur wilayah Desa Gendayakan yang sebagian besar perbukitan berbatu gamping (karst) dan vegetasi berakar dangkal, membuat air tidak tersimpan di dalam tanah sehingga warga tak bisa menggali sumur untuk mengambil air bersih. Padahal, air merupakan kebutuhan vital bagi ratusan warga yang bekerja sebagai petani di wilayah ini.

Baca Juga:Breaking News: Mulai Besok Jepang Buang Air Limbah Radioaktif ke Laut

"Kondisi kekeringan ini sudah terjadi sejak saya kecil. Alhasil untuk mendapatkan air bersih warga hanya punya dua pilihan, yakni membuat penampungan air saat hujan. Lalu ketika musim kemarau panjang, warga harus memanggul air sambil berjalan kaki sekitar empat jam pulang pergi ke Pacitan, Jawa Timur untuk mengambil 25 liter air bersih," ujar Kepala Desa Gendayakan, Heri Sutopo, di sela syukuran ‘Peningkatan Sistem Distribusi Air Bersih Goa Jomblang’, Selasa (22/8/2023).

Ketiadaan air bersih di desa Gendayakan, menimbulkan sejumlah implikasi, terutama dalam hal menurunnya kesejahteraan masyarakat.

Mulai dari gagal panen hingga tergerusnya tabungan warga untuk membeli air. Harganya tidak murah. Untuk satu tangki air dengan kapasitas 5 ribu liter, warga merogoh kocek sekitar Rp150 ribu. Di musim kemarau, harga air naik menjadi Rp170 ribu hingga Rp200 ribu.

"Lebih dari 80 persen warga kami menggantungkan hidup dari bertani, kalau gagal panen karena tidak ada air, otomatis mereka tidak memiliki penghasilan. Ada juga warga yang terpaksa menukarkan ternak peliharaan mereka seperti sapi demi mendapatkan air bersih, sehingga dengan kondisi seperti itu, secara perlahan kesejahteraan warga menurun," Heri menjelaskan.

Kondisi ini, berangsur membaik mulai tahun 2019. Kala itu, kerja persaudaraan lintas instansi dan elemen masyarakat mulai mengeksplorasi Goa Jomblang yang ada di Desa Gendayakan.

Baca Juga:Rencana Erick Thohir di Balik Merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air

Hasil penelitian menunjukkan, di dasar goa terdapat sumber air bersih melimpah dengan baku mutu yang dapat dikonsumsi manusia.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini