"Kalau ada yang rusak langsung kita perbaiki. Jadi ada pengecekan secara rutin," ungkap dia.
Dengan jumlah 30 orang dibagi dua shif, siang dan malam. Untuk shif siang ada 20 orang yang jaga, sedangkan yang jaga malam hari ada 10 orang.
"Jadi 24 jam itu terus dipantau ketat oleh petugas, karena ada yang jaga. Saya juga kadang ikut memantau," sambung Bagong, sapaan akrabnya.
Untuk membuat jembatan sasak ini, Sugiyono harus merogoh kocek sekitar Rp 35 juta. Jembatan sasak dibuat dengan sekitar 100 bambu, 34 drum atau tong.
Baca Juga:Curhatan Warga Solo Perdana Gunakan Kompor Listrik: Awal-awal Jeglek, Masak Juga Tak Bisa Cepat
Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dishub Solo, Ari Wibowo mengatakan jika jembatan sasak ini bukan menjadi jalur alternatif yang ditentukan. Karena berpotensi rawan kecelakaan.
"Potensi rawan keselamatan, itu kan pakainya drum, goyangan terasa, terakhir diujung sangat menanjak," jelas Ari.
Ari menambahkan, jika warga tidak menjadikan jembatan sasak itu sebagai jalur alternatif, bisa mencari jalur yang lebih aman meski menempuh jarak yang jauh.
"Harapan kami itu tidak jadi alternatif," tandasnya.
Kontributor : Ari Welianto