"Di tempat itulah, banyak lahir penari-penari hebat untuk regenerasi budaya bangsa. Itu adalah rumah budaya dari beragam kesenian, baik seni pertunjukan maupun seni rupa," kata dia.
Namun, kawasan itu tinggal menjadi kenangan semata. Mereka yang bernaung dan mencari nafkah di kawasan sekitaran Joglo Sriwedari juga ikut terdampak.
Dengan kondisi yang memprihatinkan itu, Kusumo berharap Pemerintah Kota atau Pemkot Solo segera mengambil langkah revitalisasi kawasan Sriwedari.
"Kami berharap revitalisasi segera dilaksanakan karena DED sudah dibuat. Untuk itu, kami mendukung revitalisasi kawasan Sriwedari secepatnya dilaksanakan," tegas dia.
Baca Juga:Festival Budaya Loloan di Jembrana Bali
![Joglo Sriwedari yang dulunya sebagai rumah budaya yang menghasilkan deretan seniman, kini berubah bak hutan belantara di jantung Kota Solo. [dok]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/02/94072-joglo-sriwedari.jpg)
Menurut dia, revitalisasi harus segera dilakukan karena sudah ada detail engineering design (DED) atau maket penataan kawasan Sriwedari yang telah dirancang sebelumnya.
Kusumo mengakui sekarang ini Pemkot Solo merevitalisasi sejumlah tempat seperti Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Taman Balekambang, Lokananta, maupun Koridor Gatot Subroto.
Namun dia berharap revitalisasi kawasan Sriwedari Solo tidak dilupakan, mengingat kondisinya yang seperti terbengkalai beberapa tahun terakhir.
"Gedung Wayang Orang sudah tidak layak pakai untuk pertunjukan, pembangunan Masjid Sriwedari mangkrak. Kondisi ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi kami," jelas BRM Kusumo Putro. (Ronald Seger Prabowo)
Baca Juga:Jeje Slebew Sendirian di Trotoar, Citayam Fashion Week Bubar?