CFD di Kota Solo Kembali Dibuka, Banyak Pengunjung dan Pedagang yang Tidak Pakai Masker, Ini Evaluasi Gibran

CFD di Kota Solo resmi kembali dibuka, pada Minggu (15/5/2022)

Budi Arista Romadhoni
Minggu, 15 Mei 2022 | 10:37 WIB
CFD di Kota Solo Kembali Dibuka, Banyak Pengunjung dan Pedagang yang Tidak Pakai Masker, Ini Evaluasi Gibran
Warga memadati CFD di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo Minggu (15/5/2022). [Suara.com/Ari Welianto]

SuaraSurakarta.id - Solo Car Free Day (CFD) resmi kembali dibuka, Minggu (15/5/2022). Antusias masyarakat sangat tinggi dan memadati sepanjang Jalan Slamet Riyadi mulai perempatan Purwosari hingga Jalan Jenderal Sudirman depan Balai Kota Solo untuk berolahraga. 

Ribuan pedagang yang menjajakan berbagai macam barang dagangan juga memadati CFD yang selama dua tahun berhenti.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka pun memantau langsung CFD dengan bersepeda.

Gibran bersepeda mulai dari kediamannya di Sumber ke Loji Gandrung menuju CFD pukul 06.30 WIB. Putra sulung Presiden Jokowi ini bersepeda disepanjang area CFD mulai perempatan Purwosari hingga kawasan Benteng Vastenburg.

Baca Juga:Kuota Haji Kota Solo pada 2022 Ini Sebanyak 260 Orang, Usia Calon Jemaah yang Berangkat Harus di Bawah 65 Tahun

"Tadi berangkat jam 6.30 WIB, berangkat dari Loji Gandrung. Tadi mengecek zonasi-zonasi pedagang," ujar Gibran saat ditemui di CFD, Minggu (15/5/2022).

Gibran pun menilai masih banyak evaluasi yang harus dibenahi dalam gelaran Solo CFD perdana setelah dua tahun berhenti.

"Banyak evaluasi, sambil jalan kita benahi," terang.

Gibran menjelaskan, untuk pedagang sudah dibuatkan zonasi tapi tidak dimanfaatkan. Sehingga ada beberapa zonasi banyak space yang kosong, seperti di Benteng Vastenburg dan Galabo.

"Minggu depan biar dievaluasi lagi Dinas Perdagangan (Disdag), Dinas Perhubungan (Dishub), dan Satpol PP. Jadi nanti yang belum terakomodir bisa dimasukan ke sana," ungkapnya.

Baca Juga:Pemkot Surakarta akan Tindak Tegas Reklame yang Tidak Berizin

Jumlah pedagang juga banyak sekali dan ke depan harus zonasi. "Sulit memang kalau untuk penataan lebih rapi. Terutama pedagang yang di luar paguyuban," imbuh dia.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini