"Semua orang tua pasti ingin anaknya berhasil sehingga saya minta tolong kepada semua guru untuk menyayangi dan mendidik putra putri calon pemimpin bangsa ini dengan ikhlas dan kasih sayang."
“Jadi, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali, kalau ini terjadi lagi, meskipun orang tuanya memberikan maaf, anaknya menerima, tapi saya tidak akan pernah berhenti dalam menyelesaikan kasus itu. Saya selalu sampaikan, di zaman kepemimpinan saya, bekerjalah dengan hati, gunakan rasa gotong royong, gunakan rasa empati dan lakukan semuanya dengan ibadah,” kata dia.
Eri Cahyadi mengatakan akan membelikan dua sepeda untuk dua anak kembar Ali. Dia berpesan supaya mereka menjadi anak pintar dan berbakti kepada orangtya.
“Iya siap,” kata kedua anak itu.
Eri Cahyadi juga bertanya apakah keluarga Ali sudah masuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah atau belum. Sebab, mereka tinggal di tempat kos yang sederhana dan Ali hanya bekerja sebagai tukang sayur keliling.
Keluarga itu belum masuk MBR dan Ali menolak untuk dimasukkan ke MBR karena dia menilai masih muda dan masih sanggup untuk bekerja keras.
Eri Cahyadi ingin memberikan akses permodalan kepada Ali supaya bisa mengelola toko kelontong di daerah tersebut. “Saya salut kepada Pak Ali ini. Beliau ini patut dijadikan contoh, bahwa selama dia masih mampu untuk bekerja keras, apalagi masih muda, tidak menggantungkan kepada bantuan-bantuan pemerintah. Jadi, mungkin nanti beliau bisa mengelola toko kelontong saja dan nanti yang beli ASN-nya Pemkot Surabaya,” katanya. [Beritajatim]