facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Awas! Inflasi Tinggi di Amerika Serikat akan Berdampak ke Perekonomian Indonesia

Budi Arista Romadhoni Minggu, 12 Desember 2021 | 08:05 WIB

Awas! Inflasi Tinggi di Amerika Serikat akan Berdampak ke Perekonomian Indonesia
Ilustrasi inflasi. Perekonomian Indonesia masih menghadapi masa sulit, salah satunya dampak dari inflasi tinggi di Amerika Serikat [Istimewa].

Perekonomian Indonesia masih menghadapi masa sulit, salah satunya dampak dari inflasi tinggi di Amerika Serikat

SuaraSurakarta.id - Perekonomian Indonesia akan menghadapai resiko global. Salah satunya dampak dari laju inflasi di Amerika Serikat

Hampir sebulan lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan bahwa perekonomian Indonesia yang tahun ini sudah kembali ke jalur pemulihan, masih menghadapi risiko global yang salah satunya dari laju inflasi di Amerika Serikat yang terus naik.

Kenaikan inflasi dikhawatirkan mendorong bank sentral AS, Federal Reserve, mengetatkan sistem moneter negeri itu yang akhirnya bisa berpengaruh secara global, termasuk Indonesia.

Kenapa demikian? Jawaban soal ini bisa diawali dari melihat posisi sistem keuangan AS dan Federal Reserve dalam peta ekonomi dunia.

Baca Juga: 3 Fakta Peristiwa Pearl Harbor: Penyerangan Jepang ke Pangkalan Angkatan Laut AS

Globalisasi membuat arus modal lintas batas menjadi jauh lebih sibuk karena dunia sudah demikian terintegrasi secara finansial. Di satu sisi, perubahan ini membuat sistem keuangan AS menjadi produsen utama aset aman untuk perekonomian global, sementara Federal Reserve menjadi adidaya moneter yang menentukan kondisi moneter global.

Semua itu terjadi karena sistem keuangan AS sudah menjadi intermediasi keuangan global. Sistem keuangan AS yang cenderung meminjam dari negara lain untuk jangka pendek dalam suku bunga yang rendah dan saat bersamaan berinvestasi dalam jangka panjang dalam aset-aset asing berisiko tetapi menghasilkan yield lebih tinggi, telah menyediakan aset yang aman dan likuid untuk dunia.

Dengan posisi semacam itu dan saat bersamaan ketika dunia sudah menjadi satu tubuh sehingga satu sakit akan dirasakan oleh yang lain, maka manakala perekonomian AS, yang menghimpun produk domestik bruto terbesar di dunia, yakni 22,68 triliun dolar AS atau satu setengah kali China yang ber-PDB 16,64 triliun dolar AS, batuk rejang karena inflasi yang ujungnya mendorong kenaikan suku bunga, maka batuk itu bisa menulari ekonomi lain.

Sebulan setelah wanti-wanti Sri Mulyani, tingkat inflasi AS tak kunjung berhenti bahkan meroket 6,8 persen dibandingkan tahun lalu atau kenaikan tahunan tertinggi sejak 1982.

Menurut badan statistik Amerika Serikat (BLS), inflasi naik 0,8 persen sepanjang November lalu setelah naik 0,9 persen pada Oktober.

Baca Juga: Politikus AS Ini Mundur Jadi Anggota DPR, Pilih Jadi CEO Media Milik Donald Trump

Kenaikan harga terjadi pada hampir semua sektor. Sebagai contoh, mengutip Associated Press, inflasi yang terus membumbung ini membuat harga daging babi naik 21 persen selama setahun terakhir, harga telur naik 8 persen, bensin melonjak 58 persen, bahkan harga mobil bekas pun naik 31 persen.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait