Dor! Dor! PKI Tembaki Pemuda di Gladak Kota Solo, Ini Kesaksian Usman Amirodin

Kekejaman PKI teringat jelas oleh Usman Amirodin, ini kisahnya

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 30 September 2021 | 13:00 WIB
Dor! Dor! PKI Tembaki Pemuda di Gladak Kota Solo, Ini Kesaksian Usman Amirodin
Ilustrasi senjata api. Kekejaman PKI teringat jelas oleh Usman Amirodin, ini kisahnya. [pixabay]

Dia juga ingat harus menunjukan tetangga di belakang rumahnya yang orang PKI. Mereka dibawa oleh aparat, tidak tahu nasibnya seperti apa setelah ditangkap. 

"Ada juga yang sempat dibawa dulu ke Balai Muhammadiyah. Di sana diminta, ayo baca syahadat tidak bisa, ayo baca bismillah tidak bisa juga," ujar Usman. 

Diceritakan, sebelum peristiwa itu tersebut kondisi Kota Solo memang mencekam. Itu berlangsung mulai 1-22 Oktober 1965, atau setelah pembunuhan para jenderal pada 30 September 1965.

Waktu itu warga non PKI dari nasionalis dan agamis menjadi satu saling menjaga. Dulu tiap malam makannya nasi bungkus, ada dapur umum yang menyediakan. 

Baca Juga:Kisah dr Djelantik Menolak Serahkan Pasien Simpatisan PKI ke Pasukan Tameng

"Tiap malam kita tidak berani tidur di rumah tapi berjaga-jaga dan jalan-jalan kampung ditutup. Di Solo itu memang PKInya kuat sekali," tuturnya.

Tidak ada teror fisik, hanya teror mental saja, Tapi warga dan para pemuda tetap waspada. Sebenarnya sebelum meletus Gerakan 30 S PKI, Solo sudah dikuasai. 

Sempat ada aparat yang berkeliling dan menjumpai warga serta pemuda yang berjaga. Aparat meminta pulang dan kembali ke rumah, karena masalah itu merupakan urusan internal TNI. 

"Sudah, masuk ke rumah masing-masing tidak usah kumpul-kumpul. Ini urusan internal Angkatan Darat, masuk ke rumah saja," tuturnya. 

Dulu itu mendengar berita ada Dewan Revolusi pada, 30 September 1965. Waktu itu, dia baru mengikuti pelatihan kader dari Pemuda Muhammadiyah di Banyuagung, Mojosongo. 

Baca Juga:Terkuak! Berstatus Ayah-Anak, Gibran Harus Janjian Dulu untuk Bertemu Presiden Jokowi

"Awalnya belum tahu apa itu Dewan Revolusi. Kita tahu malamnya, jika itu gerakan membunuh para jenderal. Paginya baru tahu jika gerakannya itu dari PKI dan sejak itu Solo mencekam sekali," tandas dia. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini