Dor! Dor! PKI Tembaki Pemuda di Gladak Kota Solo, Ini Kesaksian Usman Amirodin

Kekejaman PKI teringat jelas oleh Usman Amirodin, ini kisahnya

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 30 September 2021 | 13:00 WIB
Dor! Dor! PKI Tembaki Pemuda di Gladak Kota Solo, Ini Kesaksian Usman Amirodin
Ilustrasi senjata api. Kekejaman PKI teringat jelas oleh Usman Amirodin, ini kisahnya. [pixabay]

Karena saat menuju Balaikota, Dia berada di rombongan belakang dan kaget saat ada tembakan.   

"Saya sembunyi berdua sama teman dari GPM. Belum berani keluar dan tidak tidak berani pulang sampai benar-benar aman. Teman saya ada yang tertembak," kisah pria kelahiran 30 Juni 1939.

Setelah situasi benar-benar aman agak malam baru keluar dari persembunyian dan pulang ke rumah di Kusumoyudan, Keprabon. 

Sampai di rumah langsung ketemu ibu dan dikasih kalau keponakannya yang bernama Salim waktu itu berusia 13 tahun tadi mengikuti aksi.

Baca Juga:Kisah dr Djelantik Menolak Serahkan Pasien Simpatisan PKI ke Pasukan Tameng

"Saya tanya, sekarang di mana bu. Waktu itu ternyata banyak teman-teman yang tertembak kakinya dan ibu salah satu yang mengurus," ungkap dia. 

Esok harinya, Dia mendapat kabar kalau keponakannya meninggal. Dapat informasi juga jika setelah aksi semalam yang mau pulang dicegat di berbagai lokasi. 

Lalu dibawa ke Kedung Kopi daerah pinggiran Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres dan semuanya disiksa serta dibunuh. 

"Yang dibawa itu sudah meninggal semua di Kedung Kopi, termasuk keponakan saya. Di sana itu dihajar hingga rusak badanya, keponakan saya ditusuk di leher hingga tembus. Total yang dibawa itu ada 23 orang, 22 orang dari dan satu orang Klaten," ucapnya.

Selanjutnya mereka yang meninggal dibawa ke rumah sakit dan diambil serta diserahkan ke keluarganya. 

Baca Juga:Terkuak! Berstatus Ayah-Anak, Gibran Harus Janjian Dulu untuk Bertemu Presiden Jokowi

Saksi sejarah Usman Amirudin yang melihat kekejaman PKI membunuh banyak orang di Kota Solo. [Suara.com/Ari Welianto]
Saksi sejarah Usman Amirudin yang melihat kekejaman PKI membunuh banyak orang di Kota Solo. [Suara.com/Ari Welianto]

"Sejak peristiwa itu Solo dikuasai oleh orang-orang nasionalis dan agamis. Gantian kita yang operasi orang-orang PKI, setiap malam kita mencari itu peduli kenal yang ditangkap," paparnya. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini