Sedangkan untuk harta-hartanya disimpan di bawah tanah yang pintu gerbangnya tertutup oleh batu gajah tersebut. Untuk mengambil harta tersebut harus memindahkan batu tersebut.
Sebenarnya itu merupakan tipu muslihat Patih Protoyudho. Harta yang disimpan disitu hanya sedikit, sedangkan harta yang banyak dibawa ke Gunung Roro Gunting.
"Saat terjadi huru hara di Kerajaan Prambanan, Pangerang Eling-Eling lari membawa harta benda yang dinaikan gajah. Ceritanya seperti itu," katanya.
Menurutnya, batu-batu arca di sekitar Museum Gempa dan situs Gajah Putih banyak. Kemungkinan kalau tanahnya digali akan banyak ditemukan reco-reco.
Baca Juga:New Audi RS 4 Avant Tampil Lebih Sporty, Refleksikan Ciri Khas 25 Tahun Terakhir
"Ini zaman sebelum Kerajaan Majapahit, jauh sebelum itu malah," ungkap dia.
Saat ini situs tersebut banyak dikunjungi masyarakat yang ingin tahu Gajah Putih yang sedang ndekem dan dikeramatkan oleh masyarakat.
Apalagi tempatnya itu satu lokasi dengan Museum Gempa bumi yang dibangun 11 tahun setelah kejadian tersebut.
"Jadi pengunjung selain tahu sejarah gempa bumi Yogyakarta bisa tahu juga tentang asal usul gajah putih," imbuhnya.
Patung gajah putih tersebut berada di bawah bangunan sebelah kiri setelah prasti museum. Terlihat batu berbentuk gajah dengan posisi ndekem berada di tempat yang sengaja dibuat dengan bentuk kotak.
Baca Juga:Kunjungan Kerja Komisi VIII Pantau Pengelolaan Asrama Haji Donohudan
Kontributor : Ari Welianto