suara mereka

Menengok Kirab Peringatan Malam Selikuran Tradisi Keraton Solo

Rombongan berjumlah sekitar 150 orang berjalan dari kompleks keraton menuju Masjid Agung Surakarta yang berjarak 500 meter.

Ronald Seger Prabowo
Senin, 03 Mei 2021 | 03:29 WIB
Menengok Kirab Peringatan Malam Selikuran Tradisi Keraton Solo
Karaton Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo tetap menggelar tradisi malam selikuran, Minggu (2/5/2021) pukul 21.30 WIB. Dalam tradisi malam selikuran ini tak lain untuk memperingati malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. [Suara.com/Budi Kusumo]

SuaraSurakarta.id - Karaton Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo tetap menggelar tradisi malam selikuran, Minggu (2/5/2021) pukul 21.30 WIB. Dalam tradisi malam selikuran ini tak lain untuk memperingati malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Peringatan itu dengan kirab membawa lentera atau lampu ting. Rombongan berjumlah sekitar 150 orang berjalan dari kompleks keraton menuju Masjid Agung Surakarta yang berjarak 500 meter.

"Tradisi ini yang tak lain untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Kegiatan ini rutin diadakan semenjak PB X Raja Keraton Solo," kata Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo di Masjid Agung Surakarta.

Gusti Dipo menjelaskan, tradisi malam selikuran ini diawali dari kirab seribu nasi tumpeng. Dalam kirab yang dilakukan para abdi dalem Keraton Solo itu, selain membawa nasi tumpeng juga dibekali dengan lampu ting.

Baca Juga:Malam Lailatul Qadar 2021: Doa, Amalan, Cara Mendapatkan

Setelah sampai di Serambi Masjid Agung Surakarta, ribuan nasi tumpeng yang berisi telur puyuh, cabai hijau, didoakan oleh ulama dari Keraton Solo, untuk kemudian dibagikan ke abdi dalem dan warga sekitar.

Selain itu, tambah Gusti Dipo, bahwa kirab malam selikuran atau malam seribu bulan tersebut untuk memperingari turunnya wahyu untuk Nabi Muhammad SAW.

"Jodang berisi makanan ini disebut tumpeng sewu yang juga melambangkan malam seribu bulan, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan," ungkapnya.

Salah satu abdi dalem Karaton Solo yang biasa disapa Kus, meyakini ada berkah dari nasi tumpeng yang ia dapat.

"Kalau nasi tumpeng ini tidak habis, akan saya keringkan. Lalu, nasi yang sudah kering akan ikut saya masak. Karena saya meyakini ada berkah," ungkapnya.

Baca Juga:Bertemu Malam Lailatul Qadar, Guru Agama di Bone Langsung Hafal Alquran

Berkah yang Kus maksud, yakni rejeki yang didapat akan mengalir terus.

"Rezeki yang saya dapat ini adalah berkah. Seperti mengalirnya rejeki yang ada di Keraton Kasunanan Surakarta," tandasnya. 

Kontributor: Budi Kusumo

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak