Kini, jalan Solo-Sragen berstatus sebagai jalan nasional. Meski demikian, kerusakan kerap muncul di sejumlah titik.
Selain berlubang, jalanan juga kerap bergelombang. Tanah yang labil dan banyaknya truk bertonase tinggi yang melintas menjadi penyebab utama terjadinya kerusakan jalan.
Aspal jalan bergelombang umumnya terjadi di dekat persimpangan jalan. Hal ini disebabkan karena terlalu lama menahan beban truk bertonase tinggi yang berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.
Sejauh ini, perbaikan jalan Solo-Sragen baru sebatas tambal sulam. Kondisi jalan yang rusak itu tentu membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Baca Juga:Selundupkan Sabu 6 kg di Lampu Sorot, 2 TKI Asal Madura Gagal Pulang
Tidak jarang warga mengalami kecelakaan tunggal setelah roda sepeda motornya terperosok lubang di jalan Solo-Sragen.
Berita soal kerusakan di jalan Solo-Sragen ini pun ramai dikomentari warganet di fanpage Facebook Solopos.com. Mereka pun merasa prihatin sekaligus geli mengetahui fakta bahwa kerusakan jalan utama itu telah disoroti sejak zaman kompeni.
“Sungguh prihatin. Zaman aku di Sragen tahun 1986 naik sepeda harus mencelat beng blegongan. Ya Allah,” komentar Safira Safira.
“Masaran duwe crito, dalan ora roto,” sambung Baggus Tur Mromgos.
“Kudune nek wes terkenal rusak ki yo geg didandani kok,” imbuh E-lia Aryani.
Baca Juga:4000 Vaksin Tiba di Sidoarjo, Nakes Divaksinasi Dulu, Masyarakat Oktober
Jalan Sragen Solo ini sudah darri dulu kondang jalur maut. Jalannya sempit dan ramai. Jika musim penghujan banyak lubangnya. Dalam perkembangannya jalur diperlebar dari Palur sampai Masaran. Dulu banyak yang mengira akan diperlebar dan dua arah sampai Sragen, ternyata tidak.