- Ekonom Surya Vandiantara menyatakan buruh merupakan tonggak utama produksi yang sangat krusial bagi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.
- Perjuangan buruh berhasil mendorong kebijakan kesejahteraan seperti UMR, THR, serta BPJS yang meningkatkan daya beli konsumsi domestik.
- Surya mengimbau buruh menjaga iklim bisnis dengan menghindari aksi anarkis demi tercapainya kesejahteraan yang lebih baik secara berkelanjutan.
SuaraSurakarta.id - Ekonom Surya Vandiantara menilai kontribusi buruh pada perekonomian Indonesia sangat besar.
Sebab, tanpa ada buruh tidak akan ada aktivitas produksi.
"Buruh merupakan tonggak utama dalam membangun perekonomian Indonesia. Tanpa kontribusi buruh, berbagai aktivitas produksi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tidak akan pernah tercapai," kata dia, Kamis (30/4/2026).
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini memaparkan, perjuangan kaum buruh telah mendorong berbagai kebijakan yang berdampak luas pada masyarakat, seperti adanya Upah Minimum Regional (UMR), Tunjangan Hari Raya (THR), hingga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Menurut Surya, kontribusi buruh itu patut diapresiasi.
"Perjuangan kaum buruh tentunya harus diapresiasi. Misalnya, setiap kenaikan UMR akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi, karena pendapatan kaum buruh itu juga dapat diserap maksimal oleh pasar (konsumsi domestik)," terangnya.
Bahkan, menurut Surya, kenaikan UMR itu pun turut memutar roda perekonomian nasional, karena pendapatan buruh sebagian besar juga dibelanjakan pada produk UMKM.
"Kaum buruh terbukti membelanjakan pendapatannya pada pengusaha skala UMKM, sehingga roda perekonomian bisa berjalan dengan baik," jelasnya.
Melihat peran vital tersebut, Surya mengajak kaum buruh untuk tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis dalam aksi demonstrasi yang dapat merugikan iklim bisnis, terlebih pada aksi May Day 2026 ini.
"Pengusaha memang harus mempertimbangkan kesejahteraan buruh. Namun buruh sebagai komponen terpenting dalam menjalankan roda produksi juga jangan melakukan aksi sabotase, mogok kerja atau aksi rusuh yang merusak iklim bisnis," kata Surya.
Baca Juga: AdaKami Gandeng UNS Lewat Tech for Indonesia untuk Bangun Talenta Fintech Masa Depan
Menurutnya, keberhasilan perjuangan kaum buruh harus diukur dari tingkat kesejahteran yang dicapai. Bukan soal aksi sabotase, mogok kerja atau demonstrasi yang rusuh.
"Keberhasilan perjuangan kaum buruh tidak dapat diukur dengan keberhasilan melakukan sabotase atau mogok kerja hingga perusahaan bangkrut. Sebaliknya, keberhasilan kaum buruh harus diukur berdasarkan tingkat kesejahterannya. Seperti perjuangan menuntut UMR itu sejatinya perjuangan guna mencapai kesejahteraan yang lebih baik," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
MilkLife Kickers Raih Dua Kemenangan di Hari Kedua Singa Cup 2026
-
Tahu Kesukaan Kakaknya, GPH Paundra Dapat Hadiah Tas saat Prosesi Langkahan dari GRAj Sura
-
Digunakan Ratusan Ribu Konsumen, Pherini Body Lotion Tuai Banyak Review Positif
-
Kubu PB XIV Purboyo Gelar Tingalan Dalem Jumenengan di Kediaman Raja Sasana Narendra
-
Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta