Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 20 Februari 2026 | 04:01 WIB
Bubur Samin khas Banjar yang menjadi tradisi di Kota Solo selama bulan ramadan. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • Bubur Samin khas Banjar dibagikan gratis di Masjid Darussalam Solo saat Ramadan, tradisi ini sudah berlangsung sejak 1985.
  • Tradisi pembagian bubur ini awalnya untuk warga internal Jayengan, kini meluas untuk umum dan disiapkan 1.500 porsi harian.
  • Aktivitas berbagi Bubur Samin telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada Oktober tahun 2025.

"Tiap harinya dibutuhkan 50 kilo beras untuk 1.500 porsi. Sekali membuat bubur samin itu butuh biasa Rp 3 juta, jadi selama bulan ramadan dibutuhkan anggaran Rp 90 juta," tandasnya.

Terpisah Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani mengatakan senang dengan tradisi yang sudah mengakar sejak 1985 dan terus lestari sampai saat ini. 

Tradisi ini sudah mengakar sebagai akulturasi budaya dari pendatang asli Banjar, Kalimantan Selatan yang tumbuh menjadi sebuah tradisi baru yang berbaur dengan kehidupan masyarakat asli Solo. Ini bukti hidupnya semangat toleransi di Solo yang sudah mengakar sejak lama. 

"Ini akulturasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun dari warga asli Banjar yang sudah tinggal dan menetap di Solo. Kami sangat mengapresiasi tradisi yang terus berlangsung di Masjid Darussalam, ini wujud nyata toleransi di Solo," tuturnya.

Astrid menambahkan Oktober 2025 lalu, aktivitas berbagi Bubur Samin khas Banjar ini sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda bersamaan dengan berbagai 13 item kebudayaan lainnya. 

"Tahun 2025 lalu Kota Surakarta dapat 14 item warisan tak benda dari Kementerian Kebudayaan, salah satunya Bubur Samin ini. Ini menguatkan posisi Kota Solo akan berbagai segi kebudayaan yang ada, termasuk dari sisi kuliner seperti ini," pungkas dia.

Kontributor : Ari Welianto

Load More