Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 20 Februari 2026 | 04:01 WIB
Bubur Samin khas Banjar yang menjadi tradisi di Kota Solo selama bulan ramadan. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • Bubur Samin khas Banjar dibagikan gratis di Masjid Darussalam Solo saat Ramadan, tradisi ini sudah berlangsung sejak 1985.
  • Tradisi pembagian bubur ini awalnya untuk warga internal Jayengan, kini meluas untuk umum dan disiapkan 1.500 porsi harian.
  • Aktivitas berbagi Bubur Samin telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada Oktober tahun 2025.

SuaraSurakarta.id - Bubur Samin khas Banjar masih jadi tradisi selama Bulan Ramadan di Kota Solo tepatnya di Masjid Darussalam, Jayengan. 

Pasalnya banyak masyarakat baik dari Kota Solo maupun luar kota yang rela mengantri untuk berburu bubur samin buat menu buka puasa.

Sekarang tradisi Bubur Samin sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia tahun 2025 lalu.

Warga mencari keberkahan dari Bubur Samin. Karena hanya ada selama Bulan Ramadan yang dibagikan secara gratis ke warga.

Bahkan tiap tahun warga selalu datang untuk menikmati bubur khas Banjar tersebut.

"Biasanya antre hari kedua atau ketiga puasa. Tapi ini hari pertama, sudah sejak dulu ke sini. Pasti tiap tahun ke sini," ujar salah satu warga, Marsiati saat ditemui, Kamis (19/2/2026).

Marsiati menyebut jika rasanya itu enak dan biasanya buat menu buka puasa bersama keluarga.  

"Rasanya enak, khas banget. Pasti ngangenin. Pastinya buat buka puasa biar berkah," katanya.

Marsiati mengaku sudah puluhan tahun ikut mengantre bubur samin. Biasanya datang sekitar pukul 16.00 WIB, itu sudah ramai.

Baca Juga: Pimpin Kurvei Pasar Gedhe dan Kalipepe, Respati Ardi Soroti Buruknya Manajemen Sampah

"Sudah lama ikut antre bubur samin, sejak anak masih kecil dan sekarang sudah menikah. Ini bawa dua wadah, mau dimakan bareng keluarga dan adik," sambung dia.

Sementara itu Takmir Masjid Darussalam Solo, Nur Cholis mengatakan tradisi bagi-bagi bubur samin itu sudah lama dari 1985 sampai sekarang.

"Kalau pembagian di masjid sejak 1985, kalau keberadaan bubur samin sudah ada sejak awal abad 19," terangnya.

Nur Cholis menjelaskan awalnya pembagian bubur samin di sini buat internal warga Jayengan. Di mana banyak warga Banjar Kalimantan Selatan yang merantau ke sini.

"Tapi seiring waktu dibagikan ke warga lain mengingat jamaah masjid semakin banyak. Jadi awalnya diperuntukan buat internal warga Jayengan, sekarang jumlah porsinya semakin banyak," ungkap dia.

Menurutnya untuk saat ini disiapkan 1.200 porsi buat warga umum, sekitar 300 porsi dibagikan di masjid buat takjil buka puasa.

Load More