Budi Arista Romadhoni
Rabu, 18 Februari 2026 | 08:16 WIB
Ilustrasi gerbang rumah mantan Presiden Jokowi disebut menjadi tembok ratapan di Google Maps. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Rumah Jokowi di Solo muncul di Google Maps dengan nama "Tembok Ratapan Solo," diduga hasil kontribusi pengguna platform tersebut.
  • Istilah tersebut cepat viral di media sosial, menjadi bahan narasi publik, namun ajudan menyatakan tidak tersinggung.
  • Aktivitas di sekitar kediaman tetap normal; tidak ada pembatasan diberlakukan meskipun lokasi tersebut menjadi perbincangan.

SuaraSurakarta.id - Penandaan lokasi di Google Maps biasanya bersifat informatif. Namun, yang terjadi pada kediaman Presiden RI ke-7 Joko Widodo di Solo justru memicu perhatian publik.

Rumah yang terletak di kawasan Sumber, Banjarsari, mendadak muncul dengan nama tidak biasa: “Tembok Ratapan Solo”. Istilah ini kemudian menyebar luas di media sosial, memunculkan beragam reaksi, spekulasi, hingga diskusi publik.

Berikut adalah sejumlah fakta penting yang perlu dipahami dari peristiwa viral tersebut.

1. Kediaman Jokowi di Solo Mendadak Muncul dengan Nama Tidak Biasa di Google Maps

Perhatian publik bermula ketika sejumlah pengguna internet menemukan bahwa lokasi rumah Jokowi di Google Maps ditandai dengan nama “Tembok Ratapan Solo”. Penamaan ini bukan berasal dari sumber resmi, melainkan diduga hasil edit atau kontribusi pengguna platform tersebut.

Google Maps memang memungkinkan pengguna untuk mengusulkan perubahan nama atau menambahkan lokasi baru. Karena bersifat terbuka, sistem ini terkadang dimanfaatkan untuk candaan, kritik, atau bahkan sindiran. Dalam kasus ini, penamaan tersebut langsung menarik perhatian karena berkaitan dengan tokoh nasional yang sangat dikenal publik.

Lokasi rumah Jokowi sendiri memang sering menjadi tujuan masyarakat yang ingin melihat langsung kediaman mantan presiden tersebut, terutama setelah masa jabatannya berakhir.

2. Viral di Media Sosial dan Menjadi Bahan Narasi Publik

Setelah muncul di Google Maps, istilah “Tembok Ratapan Solo” dengan cepat menyebar melalui berbagai platform media sosial. Salah satu akun yang ikut mempopulerkan narasi ini adalah akun @indopium, yang memposting video seorang pemuda di depan gerbang rumah Jokowi.

Baca Juga: Bakal Hadiri Rakernas PSI, Jokowi Datang Sebagai Kader?

Video tersebut dinarasikan secara satir, seolah-olah lokasi itu menjadi tempat bagi generasi muda untuk “meratap”. Bahkan disebut sebagai salah satu spot yang sedang populer di kalangan Gen Z.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat mempercepat penyebaran sebuah istilah, terlepas dari konteks awalnya. Dalam waktu singkat, penamaan tersebut berubah dari sekadar edit lokasi menjadi topik pembicaraan nasional.

3. Ajudan Jokowi Menanggapi dengan Santai dan Tidak Tersinggung

Menanggapi viralnya penamaan tersebut, ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, menyampaikan respons yang tenang. Ia mengaku tidak merasa terganggu atau tersinggung dengan penyebutan tersebut.

“Kalau saya biasa saja,” ujarnya saat dihubungi pada Senin, 16 Februari 2026.

Respons ini menunjukkan bahwa pihak internal tidak menganggap penamaan tersebut sebagai sesuatu yang perlu ditanggapi secara serius. Sikap santai ini juga mencerminkan pendekatan yang tidak reaktif terhadap dinamika yang berkembang di ruang digital.

Load More