- Petani di Sukoharjo menghadapi penurunan hasil panen padi signifikan akibat musim hujan dan kendala ketersediaan pupuk bersubsidi.
- Biaya operasional tanam padi Suranto cukup tinggi, memaksa pembelian pupuk non-subsidi karena jatah bersubsidi tidak memadai.
- Petani senior Jumadi diversifikasi dengan menanam palawija seperti jagung untuk memitigasi risiko cuaca buruk dan keterbatasan air.
Harga jual gabah dari pemerintah dipatok Rp6.500 per kilogram, sementara tengkulak seringkali menawar di bawah harga itu.
"1 ton itu bisa sampai Rp 6,5 juta. Dulu pernah 1 ton dapat Rp 8 juta," kenang Suranto. Dalam setahun, ia bisa panen padi tiga kali.
Namun, panen pertama yang jatuh di musim hujan seringkali mengecewakan.
"Kalau petani biasanya senang kalau panen kedua dan ketiga, kalau panen pertama pasti menurun hasilnya. Karena kan musim penghujan, harga jualnya pun biasanya di bawah standar," ujarnya, dengan nada pasrah.
Di desa yang sama, Jumadi (65), seorang petani senior, memiliki strategi berbeda.
Ia tak hanya menanam padi, tetapi juga palawija seperti jagung dan tembakau.
"Kalau sekarang ditanami jagung, sebelumnya tembakau. Biasanya kalau tembakau dua kali tanam. Karena memang airnya yang susah kalau disini," ujar Jumadi.
Ia juga merasakan dampak cuaca. Palawija, seperti jagung, tidak bagus jika terlalu banyak air.
"Kualitas jelas beda kalau dibandingkan pas musim kemarau. Kalau kemarau minimal bisa dapat 2,5 ton jagung," tuturnya.
Baca Juga: Satresnarkoba Polres Sukoharjo Tangkap Residivis Pengedar Sabu, Amankan Dua Paket Siap Edar
Harga jual jagung bervariasi, dari Rp 2.000 hingga Rp 4.500 per kilogram. Dengan panen 2,5 ton saat kemarau, Jumadi bisa meraup Rp 7-8 juta.
Namun, saat musim hujan, hasilnya bisa turun menjadi Rp 5-6 juta. Kendala pupuk juga ia rasakan. Jatah 6 sak pupuk bersubsidi per tahun untuk satu hektar masih jauh dari cukup.
"Satu panen biasanya 2,5 kwintal atau 5 sak pupuk," katanya, menunjukkan defisit yang harus ditutupi dengan membeli pupuk non-subsidi yang mahal.
Kisah Suranto dan Jumadi adalah potret nyata perjuangan para petani di Sukoharjo.
Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang terus berupaya menyediakan pangan bagi kita, di tengah ketidakpastian alam dan keterbatasan yang tak kunjung usai.
Kontributor : Ari Welianto
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Warga, Pejabat hingga Tokoh Nasional Sowan dan Silahturahmi ke Jokowi di Solo
-
Jangan Asal Panaskan Opor Sisa Lebaran, Ahli Gizi Ungkap Bahaya Kanker Mengintai!
-
Lebaran Penuh Berkah: 5 Destinasi Wisata Religi di Solo yang Menyejukkan Hati
-
Ini 5 Wisata Malam Solo untuk Nikmati Lebaran Idul Fitri
-
10 Kuliner Khas Solo Raya yang Bisa Jadi Rujukan Pemudik Lebaran 2026