- Petani di Sukoharjo menghadapi penurunan hasil panen padi signifikan akibat musim hujan dan kendala ketersediaan pupuk bersubsidi.
- Biaya operasional tanam padi Suranto cukup tinggi, memaksa pembelian pupuk non-subsidi karena jatah bersubsidi tidak memadai.
- Petani senior Jumadi diversifikasi dengan menanam palawija seperti jagung untuk memitigasi risiko cuaca buruk dan keterbatasan air.
SuaraSurakarta.id - Di tengah hamparan sawah yang hijau, atau ladang palawija yang membentang di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, tersimpan kisah perjuangan tak kenal lelah para petani.
Mereka adalah garda terdepan ketahanan pangan, yang setiap hari bertaruh dengan cuaca tak menentu dan keterbatasan sumber daya demi sesuap nasi.
Suranto (46), petani dari Kecamatan Gatak, adalah salah satu dari mereka, yang suaranya mewakili ribuan petani lain yang menghadapi tantangan serupa.
"Musim hujan memang sangat pengaruh juga. Bisa turun 30-40 persen hasil panennya, kualitasnya juga kurang bagus," keluh Suranto, matanya menerawang jauh ke arah langit yang sewaktu-waktu bisa menumpahkan hujan deras atau terik menyengat.
Baginya, hujan bukan selalu berkah. Saat musim penghujan, pengisian bulir padi tidak maksimal, hanya mencapai 80-100 persen dari potensi normal.
Hasilnya, panen padi yang biasanya bisa mencapai 1,5 ton saat kemarau, kini hanya bisa menyentuh angka 1 ton, bahkan kurang.
"Kalau musim kemarau bisa panen 1,5 ton, 1 ton 17 kwintal atau lebih. Di bawah 1 ton pernah," kenangnya, membandingkan masa-masa panen yang lebih melimpah.
Musuh utama Suranto dan rekan-rekan petani lainnya adalah hama yang tak henti merusak tanaman.
Namun, masalah pupuk juga menjadi duri dalam daging. Meskipun pupuk bersubsidi seperti Urea (Rp90 ribu) dan Phonska (Rp92 ribu) tersedia dengan kartu tani, jumlahnya terbatas.
Baca Juga: Satresnarkoba Polres Sukoharjo Tangkap Residivis Pengedar Sabu, Amankan Dua Paket Siap Edar
"Satu hektar itu sekitar empat sak pupuk, itu buat satu tahun," ungkap Suranto, menggelengkan kepala.
Jumlah itu jelas kurang. Ia terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pupuk non-subsidi seharga Rp 300 ribu per sak.
"Kalau nggak kayak gitu, nggak bisa tanam. Biasanya itu satu panenan satu sak pupuk. Jadi kita masih nombok sekitar 25 kilo pupuk lagi," imbuhnya, menggambarkan dilema yang dihadapi.
Untuk sekali tanam, biaya yang dikeluarkan Suranto tidak sedikit, bisa mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
Angka itu sudah termasuk sewa traktor bajak Rp350 ribu dan upah tanam Rp350 ribu, belum lagi biaya pupuk dan obat-obatan.
"Itu belum kalau kondisi tidak normal, seperti diserang hama. Itu yang dilakukan pemupukan awal hingga penyemprotan rutin," jelasnya, menggambarkan betapa rentannya investasi mereka terhadap faktor eksternal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Jokowi Tak Lagi Optimis Prabowo-Gibran 2 Periode, Gerindra Respons Santai: Pilpres Masih Jauh
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
- Jokowi Tampak Tak Lagi Optimistis Gibran Jadi Pasangan Prabowo di Pilpres 2029
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
BRI Wealth Management Tambah Tiga Reksa Dana Baru untuk Optimalkan Diversifikasi Portofolio
-
HYDROPLUS Soccer League 2026/2027 Libatkan 110 Tim, Perluas Pembinaan Sepak Bola Putri ke Solo
-
Bertemu Presiden Prabowo, Jokowi Akui Tak Bahas Putusan MK, Tapi Kemenangan Timnas Indoenesia
-
Jokowi Buka Suara Soal Polemik Ijazah Gibran: Setiap Negara Punya Sistem Berbeda!
-
Melihat Batik 'Rona Nusantara' Karya Syarif Abdillah, Siswa SMA Muhammadiyah 6 Surakarta