- Seorang pria bernama Supri diamankan warga di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur, terkait dugaan peracunan sapi.
- Tujuh ekor sapi milik beberapa warga diduga diracun agar pelaku bisa membelinya dengan harga sangat murah.
- Pelaku kini diperiksa Polsek Loceret setelah warga menemukan barang bukti yang diduga merupakan racun di kediamannya.
SuaraSurakarta.id - Kasus dugaan sapi diracun kembali menggegerkan warga Jawa Timur. Kali ini terjadi di Kabupaten Nganjuk, di mana seorang pria diduga sengaja meracuni sapi milik warga agar bisa membelinya dengan harga murah.
Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga memicu keresahan di tengah masyarakat desa.
Berikut rangkuman fakta-fakta penting kasus peracunan sapi di Nganjuk berdasarkan keterangan korban, warga, dan laporan lapangan.
1. Pelaku Ditangkap Warga di Desa Ngepeh, Nganjuk
Seorang pria bernama Supri (40), warga Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, diamankan warga setelah dicurigai meracuni sapi-sapi milik warga setempat. Penangkapan tersebut sempat terekam dalam video amatir warga dan langsung menyebar di lingkungan desa.
Setelah diamankan, Supri kemudian diserahkan ke Polsek Loceret untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
2. Mengaku Meracuni Sapi agar Bisa Dibeli Murah
Kepada warga, Supri mengakui perbuatannya. Ia diduga sengaja meracuni sapi-sapi tersebut dengan tujuan agar ternak korban terlihat sekarat dan bisa dibeli dengan harga jauh di bawah harga pasar.
Modus ini membuat warga geram karena pelaku dinilai memanfaatkan kondisi darurat para peternak yang panik saat sapinya sakit atau sekarat.
Baca Juga: PMK Menyebar Luas di Sragen, 20 Kecamatan Jadi Zona Merah
3. Total Tujuh Sapi Diduga Diracun, Milik Beberapa Korban
Berdasarkan keterangan warga, setidaknya tujuh ekor sapi milik beberapa warga diduga menjadi korban peracunan. Di satu lokasi saja, terdapat enam ekor sapi milik tiga orang pemilik yang mati dengan ciri-ciri serupa.
Salah satu korban menyebut empat ekor sapinya mati secara bertahap dalam kurun waktu beberapa minggu, dengan kejadian terakhir pada Selasa, 6 Januari.
4. Ciri-Ciri Peracunan Seragam dan Terjadi Cepat
Para korban menyebut sapi-sapi mereka mati dengan ciri yang hampir sama. Sapi mendadak kejang-kejang, ambruk, dan mati dalam waktu singkat setelah makan atau minum.
Dalam beberapa kasus, sapi yang sebelumnya sehat dan aktif mendadak ambruk hanya sekitar 30 menit hingga 2 jam setelah pelaku terlihat mondar-mandir di sekitar kandang.
5. Pelaku Kerap Mondar-Mandir Sebelum Sapi Mati
Salah satu pola yang membuat warga curiga adalah kebiasaan Supri yang sering terlihat mondar-mandir di sekitar kandang sapi sebelum ternak tersebut sakit atau mati.
Salah satu korban, Farikah, mengaku melihat Supri berada di sekitar kandang saat sapinya sedang makan. Tak lama kemudian, sapi tersebut kejang-kejang dan roboh. Saat sapi sudah sekarat, Supri justru datang menawarkan pembelian.
6. Sapi Dibeli Jauh di Bawah Harga Normal
Dalam kondisi darurat, para korban akhirnya menjual sapi mereka kepada pelaku. Harga yang ditawarkan sangat rendah, berkisar antara Rp2 juta hingga Rp6 juta per ekor.
Padahal, menurut para korban, harga normal sapi sehat bisa mencapai Rp15 juta hingga Rp17 juta per ekor. Kerugian yang dialami peternak pun mencapai puluhan juta rupiah.
7. Warga Temukan Dugaan Racun di Tempat Tinggal Pelaku
Kecurigaan warga memuncak setelah pola kejadian terus berulang. Warga akhirnya mengamankan Supri dan melakukan penelusuran. Dari tempat tinggal pelaku, warga menemukan benda yang diduga racun atau obat pembunuh.
Temuan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa kematian sapi-sapi warga bukan disebabkan penyakit alami.
Hingga kini, Supri masih menjalani pemeriksaan di Polsek Loceret. Warga mendesak aparat kepolisian untuk memproses kasus ini secara hukum agar menimbulkan efek jera.
Warga juga khawatir akan muncul korban baru jika pelaku tidak segera ditahan. Pasalnya, selain merugikan secara ekonomi, kasus ini telah menimbulkan ketakutan di kalangan peternak sapi di wilayah tersebut.
Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa praktik kejahatan di sektor peternakan bisa berdampak luas. Warga pun diimbau untuk lebih waspada terhadap orang asing yang mencurigakan di sekitar kandang ternak.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Ini Respons Jokowi Soal Gugatan Melarang Keluarga Presiden-Wapres Maju Pilpres
-
Safari Ramadan ke Ponpes Abuya Muhtadi, Kaesang Pangarep Bawa Salam Jokowi dari Solo
-
7 Fakta Viral Ayah Aniaya Anak di Sragen, Alasannya Bikin Publik Marah!
-
Disebut Terima Dana Hibah Keraton Solo, Kubu Tedjowulan: Di mana Letak Kesalahannya?
-
Jadwal Imsakiyah dan Waktu Salat di Surakarta 27 Februari 2026: Jangan Sampai Terlambat Sahur!