- Ketua FBM, Kusumo Putro, menyayangkan konflik klaim raja Keraton Solo antara kubu PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purubaya.
- Kusumo mengingatkan potensi sanksi pidana maksimal lima tahun penjara terkait penghalangan pelestarian aset cagar budaya Keraton.
- Ia mendorong Pemkot Solo proaktif membangun sinergi memanfaatkan ruang publik Keraton sebagai pusat ekonomi kreatif dan budaya.
SuaraSurakarta.id - Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM), BRM. Dr. Kusumo Putro, SH, MH angkat bicara terkait konflik dua rasa Keraton Solo.
Seperti diketahui, konflik antara kubu PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purubaya yang sama-sama mengklaim menjadi raja kian meruncing.
Kusumo sangat menyayangkan konflik yang kini melebar. Bahkan, hingga penggantian gembok museum dan saling klaim paugeran.
Menurutnya, perseteruan saudara satu ayah ini telah melukai perasaan masyarakat Solo yang merasa ikut memiliki warisan budaya tersebut.
"Secara heritage, Keraton Surakarta adalah aset bangsa. Warisan ini tidak bisa diklaim sepihak hanya milik pewaris tertentu, karena secara turun temurun banyak pewaris raja Mataram lainnya. Jujur, konflik yang terus menerus ini membuat kita sebagai warga Solo merasa malu," ujar dia, Senin (5/1/2025).
Pengacara asal Kota Solo ini juga mengingatkan, konsekuensi hukum dalam pengelolaan aset cagar budaya. Merujuk pada Pasal 5, 63, dan 99 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, masyarakat memiliki hak untuk melindungi dan mengawasi pelestarian.
Ia bahkan memberikan peringatan keras terkait Pasal 55 UU tersebut yang mengatur sanksi pidana.
"Siapa pun yang dengan sengaja menghalang-halangi upaya pelestarian cagar budaya bisa dikenakan pidana penjara maksimal 5 tahun atau denda hingga Rp500 juta. Jadi, jangan ada yang menghambat penyelamatan aset keraton," tegasnya.
Disinggung mengenai pemerintah perlu menyelesaikan perseteruan tersebut, menurut Kusuma, hal itu diperlukan namun jangan terlibat terlalu jauh. Ia mewanti-wanti agar tidak ada pihak yang bermain seperti “Kompeni” di masa lalu.
Baca Juga: Drama Keraton Solo! Tak ada Undangan untuk PB XIV Purboyo, GKR Timoer: Benar-benar Tidak Diundang
"Jangan mengulang sejarah campur tangan kompeni di setiap suksesi, karena itu memperkeruh keadaan. Pemimpin saat ini jangan adigang, adigung, adiguna. Merasa paling tinggi derajatnya dan gila hormat. Kekuasaan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Maha Pencipta," tegasnya.
Kusuma berharap, Pemkot Solo lebih proaktif membangun sinergi dengan pemangku budaya untuk memanfaatkan ruang publik Keraton sebagai pusat ekonomi kreatif dan event budaya. Hal ini penting agar Keraton tetap eksis dan kuncara (terkenal) di mata dunia.
Di era keterbukaan informasi ini, ia juga mengimbau masyarakat untuk jernih melihat informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks. Baginya, kunci utama berakhirnya konflik ini adalah mawas diri dan kembali ke ajaran filosofi luhur leluhur Mataram.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar
-
Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak
-
Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi
-
Undangan Sudah Diterima, Jokowi dan Ajudan Tegaskan Bakal Hadir Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo
-
Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'