- Dapur Keraton Surakarta menyimpan beragam hidangan bangsawan yang kini hampir punah, di mana beberapa resep masih dirawat oleh keturunan abdi dalem juru masak istana.
- Nasi Jemblung menampilkan kolaborasi rasa Jawa dan Belanda, sementara Lodoh Pindang era Pakubuwono X menunjukkan kompleksitas rempah yang melambangkan kemewahan budaya Jawa.
- Versi asli Selat Solo Keraton, Garang Asem yang lebih *creamy*, dan Brongkos yang lebih pekat menggambarkan filosofi serta teknik memasak elegan yang kini sulit ditemukan.
3. Selat Solo Versi Asli Keraton
Banyak orang mengenal Selat Solo sebagai salad Jawa versi modern, tapi versi Keraton jauh lebih kaya. Tidak sekadar sayuran dan bistik Jawa, Selat Solo Keraton menggunakan racikan kuah yang lebih halus, cenderung manis, dan punya aroma khas cengkih serta pala.
Di masa kolonial, menu ini disajikan untuk menyambut tamu Eropa. Namun berbeda dari bistik Belanda, Selat Solo Keraton mempertemukan rasa Jawa yang lembut dan sentuhan Barat yang anggun. Sayuran direbus tepat waktu, daging dimasak perlahan, dan setiap elemen disusun rapi dengan estetika ala bangsawan.
Saat ini, sangat sedikit restoran yang menyajikan versi asli karena membutuhkan teknik memasak yang telaten, mirip metode juru masak Keraton abad lampau.
4. Garang Asem Keraton
Garang Asem yang sering kita temui di warung atau restoran biasanya berkuah lebih cair dan bercita rasa asam segar. Namun Garang Asem versi Keraton memiliki karakter berbeda: lebih creamy, lebih halus, dan dimasak perlahan dalam daun pisang yang disusun berlapis.
Ayam kampung muda dimasak bersama santan tipis, belimbing wuluh, bawang lanang, dan rempah halus yang membuat aromanya wangi lembut.
Hidangan ini biasa disajikan dalam acara keluarga raja dan upacara adat tertentu. Di balik rasa asam-gurihnya, tersimpan filosofi kesederhanaan yang tidak meninggalkan keanggunan.
Masakan ini sering hilang dari daftar kuliner modern karena prosesnya memerlukan keterampilan yang diwariskan turun-temurun.
Baca Juga: KGPH Mangkubumi Dinobatkan PB XIV, Kubu PB XIV Purboyo Bakal Tempuh Jalur Hukum
5. Brongkos Keraton
Brongkos Keraton berbeda dari Brongkos Jogja. Kuahnya lebih gelap, lebih pekat, dan memiliki rasa gurih-manis yang dalam. Warna gelap khasnya berasal dari kluwek, tetapi juru masak Keraton menambahkan teknik sangrai rempah yang membuat aromanya lebih lembut dan elegan.
Daging yang digunakan bisa daging sapi atau galantin, tergantung acara. Di masa lalu, Brongkos Keraton menjadi hidangan penyambut tamu agung dan orang-orang penting yang datang ke istana. Menu ini disebut sebagai hidangan yang “menggambarkan wibawa” karena tampilannya tegas namun rasanya menenangkan.
Kini, Brongkos versi Keraton semakin jarang dibuat karena memakan waktu dan membutuhkan bahan berkualitas tinggi.
Drama suksesi Keraton Surakarta sering mendominasi pemberitaan, tetapi di balik itu ada warisan lain yang tak kalah berharga: kekayaan dapur para raja. Kuliner-kuliner yang hampir punah ini adalah bagian penting dari sejarah budaya Jawa yang patut dijaga, bukan hanya dinikmati.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Akses Keputren dan Ruang Pusaka Masih Dikunci, Revitalisasi Keraton Solo Terhambat
-
HYDROPLUS Soccer League All Stars: Putri Surakarta U-15 Gugur di Fase Grup
-
Protes Harga Telur Anjlok Drastis, Peternak Ayam Gelar Aksi Mandi Telur
-
Respon Jokowi Soal Injak Kepala Kerbau Dikaitkan Sama Politik, Itu Bentuk Penghormatan
-
Pakai Hasil Iuran Warga, Jembatan Sasak Diatas Sungai Bengawan Solo Kembali Dibuat