SuaraSurakarta.id - Tidak terasa sebentar lagi kita akan menjalani ibadah Puasa Ramadan 1445 Hijriah atau 2024. Alangkah baiknya kita melaksanakan puasa qadha atau puasa pengganti, apabila di Ramadan sebelumnya ada tidak melaksanakan ibadah puasa.
Puasa qadha adalah puasa yang dilakukan untuk mengganti puasa wajib Ramadhan yang tertinggal karena alasan syar'i. Utang puasa ini bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti sakit parah sehingga tidak mampu berpuasa wajib menggantinya di hari lain.
Musafir atau orang yang sedang bepergian jauh dan mengalami kesulitan untuk berpuasa, boleh tidak berpuasa dan wajib menggantinya di hari lain. Haid dan Nifas atau wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan berpuasa dan wajib menggantinya di hari lain.
Serta uzur syar'i seperti lansia yang tidak mampu berpuasa, boleh tidak berpuasa dan wajib menggantinya di hari lain. Hukum mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan adalah wajib. Kewajiban ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 184:
"Barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka hendaklah ia mengganti (puasa) itu pada hari-hari yang lain."
Niat dan Ketentuan Puasa Qadha
Puasa pengganti Ramadan dapat dilakukan kapan saja setelah bulan Syawal hingga sebelum Ramadhan berikutnya. Dianjurkan untuk tidak menunda-nunda.
Puasa pengganti (qadha) dilakukan sama seperti puasa Ramadhan, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dari mulai fajar hingga terbenam matahari.
Bisa dilakukan secara berturut-turut atau terpisah, sesuai kemampuan. Meski demikian Puasa qadha Ramadhan tidak boleh dilakukan pada hari yang diharamkan untuk berpuasa yakni pada Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal, dan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Kabupaten Boyolali Selasa 4 Maret 2023, Disertai Doa Niat Puasa Ramadan
Selain itu Berpuasa juga haram dilakukan pada hari-hari tasyrik yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Sedangkan bagi yang tidak mampu mengganti puasa karena uzur yang bersifat permanen seperti sakit permanen, lanjut usia atau meninggal dunia, diwajibkan membayar fidyah.
Fidyah berupa memberi makan fakir miskin sebesar 1 mud makanan pokok per hari puasa yang ditinggalkan. Adapun niat dari Puasa Qadha adalah sebagai berikut:
Nawaitu shauma ghadin 'an qadaa'i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta'aalaa.
Artinya: Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadan karena Allah Ta'ala.
Mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena uzur syar'i adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Sebaiknya tidak menunda-nunda penggantian puasa dan melaksanakannya sesegera mungkin. Jika tidak mampu mengganti karena uzur permanen, wajib membayar fidyah.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
Pilihan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
-
Listyo Diberhentikan, Suyudi Dilantik Prabowo Siang Ini Jadi Kapolri Baru Usai Disetujui DPR
-
Listyo Sigit Prabowo Segera Diganti, DPR Setujui Komjen Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
Terkini
-
Haul Habib Ali Diprediksi Dihadiri Ribuan Jamaah, 480 Personel Disiagakan
-
Usai Tunjukan KTA, Jokowi Tegaskan Serius Besarkan PSI
-
Jokowi Buka Suara Soal Penunjukan Komjen Suyudi Gantikan Listyo Sigit: Sudah Saatnya!
-
Saksi Hidup G30S Bongkar Peran Karno Gejik, Eksekutor PKI yang Catat Daftar Nama Warga untuk Dibunuh
-
Dulu Buka Jalan Gibran Lewat MK, Kini Almas Tiba-tiba Dukung Denny Indrayana Usut Ijazah Wapres!