Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Senin, 11 Desember 2023 | 21:53 WIB
Tangkapan layar foto-foto Sunaryo yang diunggah keluarganya pada utas Twitter. [Timlo.net/ist]

SuaraSurakarta.id - Hertanti, suami Sunaryo yang menjadi salah satu korban pembunuhan berantai di Wonogiri oleh tersangka Sarmo mengungkapkan fakta baru.

Seperti diketahui, Sunaryo tewas usai meminum es teh yang sudah dicampur racun oleh tersangka pada 27 April 2022 silam.

Kerangka jenazah pria asal Dusun Panggih, Desa Jatipurno, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri itu berhasil diungkap tim kepolisian Polres Wonogiri di Semagar, Girimarto, Wonogiri, pada Kamis (7/12/2023).

Hertanti sedari awal sudah mencurigai Sarmo lantaran terakhir kali dia berpamitan untuk menemui tersangka. Namun, dugaan itu tinggallah dugaan saja.

Baca Juga: Pembunuhan Sadis di Wonogiri, Korban Dihabisi dengan Racun Setelah Hilang 7 Bulan

"Karena tidak adanya bukti dari sana (kepolisian-red), sehingga hilangnya suami saya tidak diketahui keberadaannya. Tapi, saya meyakini jika ada keterlibatan dia (Sarmo)," ungkap Hertanti, Senin (11/12/2023)..

Dia mengungkapkan, sebelum suaminya itu menghilang dia terlihat gelisah.

Bahkan, Sunaryo disebutnya enggan untuk makan bersama dengan keluarganya.

"Itu salah satunya, gak mau buka bersama bareng keluarga," kata dia.

Dikatakan, sosok Sunaryo dikenal baik oleh keluarga. Sosok yang menyenangkan itu, meninggalkan seorang orang istri dan dua orang anak.

Baca Juga: Pembunuhan Sadis Berantai di Wonogiri, Korban Dibakar dan Tulangnya Ditumbuk

"Dia sering ngajak jalan-jalan, kalau longgar,” ujarnya singkat.

Hertanti juga mengungkapkan, selama menghilang setahun terakhir dia juga pernah bermimpi didatangi suaminya tersebut. "Saya bermimpi dia pulang ke rumah," ucap dia.

Sebelumnya diberitakan, kasus pembunuhan ini terungkap setelah saat pelaku ditangkap karena mencuri ponsel dan gergaji mesin di Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri.

Dari hasil pengembangan, akhirnya terbongkarlah kasus pembunuhan dengan dua korban, yakni Sunaryo dan Agung Santoso.

Kapolres Wonogiri, AKBP Indra Waspada menjelaskan, setelah korban meninggal dunia, tersangka mengubur jasad Sunaryo di bawah dipan tempat biasa di bekerja menggergaji kayu. Korban dikubur selama 3 bulan.

Pelaku disebutnya sempat ketakutan, lantaran lokasi itu didatangi polisi dengan menggunakan anjing pelacak. Hingga akhirnya, jasad Sunaryo kembali digali.

Setelah diangkat, Sarmo membakar jasad Sunaryo. Setelah itu, sisa-sisa tulang korban ditumbuk hingga halus. Tak sampai disitu, Sarmo juga mengulangi perbuatannya itu beberapa kali.

Kasatreskrim Polres Wonogiri Iptu Yahya Dhadiri mengatakan kerangka Sunaryo ditemukan dalam kondisi berantakan. Sebab tulangnya dibakar dan abunya atau serpihan tulang dibuang dengan tanah.

Kapolres Wonogiri AKBP Indra Waspada menjelaskan, awalnya jenazah Sunaryo ditimbun di bawah dipan tempat tidur pelaku selama tiga bulan. Kemudian disiram solar untuk menyamarkan bau.

Namun, karena takut ketahuan, mayat digali dan dibakar. Bukan hanya itu tulangnya ditumbuk hingga menyisakan serpihan kerangka.

Sementara itu, korban Agung dikubur di area hutan setelah meninggal diracun oleh Sarmo. Agung dikubur sendiri oleh Sarmo. Bahkan pelaku menggotong sendiri jenazah ke hutan.

Load More