SuaraSurakarta.id - Dukungan moral diberikan warga Gajahan Kecamatan Pasar Kliwon kepada Lurah Gajahan Saparno yang copot dari jabatannya oleh Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.
Warga Gajahan merasa gelo dan kecewa atas kebijakan wali kota yang mencopot Lurah Gajahan dari jabatannya.
Sebagai bentuk dukungan, warga membubuhkan tanda tangan dalam kain warna putih. Kain tersebut kemudian di bawa keliling ke warga Gajahan untuk tanda tangan.
Ada juga dua spanduk yang dipasang di depan Kelurahan. Spanduk tersebut bertuliskan "#Save Lurah", "We Trust Suparno",
"Jadi Warga Jangan Manja" dan "Lurah Hebat Kok Dipecat" dan "Save Linmas" namun spanduk sudah dicopot.
"Jujur kami dukung pak lurah sepenuhnya. Kami warga Gajahan mendukung dan sangat kecewa dengan kebijakan pencopotan pak lurah," ujar salah satu warga Gajahan Ananda (60) saat ditemui Senin (3/5/2021).
Menurutnya, ini yang tanda tangan semua warga yang mendukung pak lurah. Kalau untuk spanduk yang anak-anak mudah pukul 02.00 WIB tadi dan dicopot pukul 06.00 WIB.
Tadi ibu-ibu PKK juga mengajak bagaimana mengupayakan agar Pak Lurah tidak dicopot. Warga Gajahan mendukung Pak Suparno.
"Kita bukan protes tapi dukungan secara moril, kalau bisa ya mbok jangan dipecat. Tapi berilah solusi yang terbaik, karena yang terjadi di lapangan itu tidak seperti yang dibayangkan orang-orang dan bukan pungli," paparnya.
Baca Juga: Spanduk 'Save Lurah' hingga 'WeTrustSuparno' Muncul Usai Dicopot Gibran
Warga pun membantah jika di Kelurahan Gajahan tidak ada pungutan liar (pungli), itu merupakan rasa empati warga kepada Linmas yang tidak mendapatkan THR. Warga memberikan pun tidak ada paksaan tapi sukarela, ada yang memberi Rp10.000 hingga Rp100.000.
"Itu sepengetahuan warga semua dan terbuka bukan tertutup. Warga juga bagaimana mengupayakan linmas atau penarik sampah mendapatkan THR apapun bentuknya, itu adalah rasa kebersamaan kita terhadap warga yang tidak mampu," ungkap dia.
Menurutnya, itu yang minta linmas kepada warga-warga yang mampu untuk memberikan bantuan. Bukan hanya pemilik-pemilik toko diminta dan itu tidak ada paksaan tapi sukarela.
"Itu tidak hanya setiap tahun tapi setiap saat kita ada apapun membantu warga yang tidak mampu. Itu bukan tradisi, terus terang kita merasa gelo dan kecewa adanya pemberitaan yang dibilang pungli," sambung dia.
Harusnya dari pemerintah itu bisa paham dan melihat kondisi yang sebenarnya di lapangan seperti apa. Sebagai warga merasa empati terhadap linmas dan petugas penarik sampah.
"Pak Lurah tidak menerima uang itu karena beliau orang yang mampu dan punya sawah banyak. Pak lurah orangnya baik, beliau sering datang ke warga membicarakan soal pembangunan di tingkat RT dan RW," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi
-
Undangan Sudah Diterima, Jokowi dan Ajudan Tegaskan Bakal Hadir Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo
-
Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'
-
Refleksi 100 Tahun Sumpah Pemuda, GSI Kumpulkan Ratusan Anak Muda Lintas Organisasi di Kota Solo
-
Demo di Rumah Jokowi, Massa Bawa Spanduk Gibran 'Anak Haram Konstitusi' Tuntut Mundur dari Wapres