SuaraSurakarta.id - Masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan di Indonesia.
Beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih "berputar-putar", bergerak moderat di angka 5 persen. Belum lagi hantaman pandemi Covid-19 memubat perekonomian sedang lesu.
Kemiskinan di Indonesia banyak memunculkan cerita pilu yang dirasakan warga yang kurang beruntung tersebut.
Cerita pilu itu salah satunya datang dari sebuah daerah di Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Dua anggota keluarga yang kurang beruntung yakni Kadiman (35) yang tinggal bersama ibunya Dasir (75) harus tinggal di sebuah rumah di tengah hutan milik PT Perhutani.
Lebih miris lagi, meski sudah memasuki tahun 2021, rumah yang mereka tinggali tanpa ada aliran listrik!.
Dilansir dari Solopos.com--jaringan Suara.com, Kadiman tidak bisa bekerja lantaran kepalanya mengalami pembengkakan karena penyakit hydrocephalus. Sementara ibunya, mengalami depresi dan sudah sulit diajak berkomunikasi.
Rombongan dari Polsek Jenar yang mendengar kisah pilu di Sragen ini datang berkunjung, Jumat (15/1/2021) lalu. Mereka menyalurkan bantuan sembako kepada keluarga miskin di Sragen ini.
Kegiatan itu dipimpin Kapolsek Jenar, AKP Suparjono. Untuk menjangkau rumah yang ditinggali Kadiman dan ibunya, sejumlah polisi itu harus menyusuri kebun jati dan jagung milik warga sekitar dengan jalan kaki.
Hal ini karena tidak ada akses jalan menuju rumah yang ditinggali keluarga miskin di Sragen tersebut.
Baca Juga: Jam Malam di Makassar Diperpanjang Sampai 11 Januari 2021
"Memang tidak ada akses jalan, jadi kami harus jalan kaki sejauh sekitar 300 meter melewati kebun jati dan jagung. Di sana, rumah itu berdiri di tanah milik Perhutani. Jadi status rumah itu magersari," kata AKP Suparjono kepada Solopos.com, Sabtu (16/1/2021).
Rumah itu hanya berukuran sekitar 3x3 meter persegi. Dindingnya terbuat dari batu bata yang belum diplester yang dipadu dengan papan kayu atau triplek.
Di dalamnya hanya ada satu ruangan yang dipakai untuk tidur sekaligus memasak. Rumah itu juga belum dilengkapi fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang memadai.
Di rumah itu terdapat dipan, tempat Kadiman terbaring lemas. Ia mengidap penyakit hydrocephalus selama bertahun-tahun.
Empat tahun lalu, saat Suparjono masih menjabat sebagai Wakapolsek Jenar, ia mengantar mantan Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman, ke rumah yang ditinggali keluarga miskin di Sragen tersebut.
"Empat tahun lalu dia sudah sakit hydrocephalus. Tapi, badannya tidak sekurus sekarang," papar AKP Suparjono.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
Terkini
-
Jelang Idul Fitri, Polres Karanganyar Awasi Distribusi BBM dan Bahan Pokok
-
Desak Pemerintah Audit Dana Hibah Keraron Solo, Ketua FBM: Masyarakat Berhak Tahu!
-
Jokowi Bocorkan Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto dan Para Tokoh
-
7 Fakta Tragis Pemuda Tersengat Listrik di Wonogiri Hingga Meregang Nyawa
-
Gerak Cepat, Resmob Polresta Solo Tangkap Pelaku Curas Bersenjata Celurit