- Leo Rolly Carnando menyumbangkan medali emas bulutangkis beregu putra di Asian Games 2026 Jepang.
- Atlet asal Klaten tersebut bersama Daniel Marthin mengalahkan pasangan China dan melaju ke final perorangan.
- Keluarga menyatakan rasa bangga dan syukur atas prestasi membanggakan yang diraih Leo di ajang internasional.
SuaraSurakarta.id - Leo Rolly Carnando, salat satu atlet bulutangkis yang menyumbangkan medali emas di cabang Badminton beregu putra di ajang Asian Games 2026 di Jepang.
Leo yang berpasangan dengan Daniel Marthin berhasil mengalahkan pasangan China, He Ji Ting/Liu Yi dengan skor 23-21, dan 21-10. Bahkan Leo berpeluang menambah medali emas usai bersama Daniel Marthin memastikan masuk final di nomor perorangan.
Di babak seminal, Leo/Daniel mengalahkan unggulan pertama asal Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae dengan skor 21-11 dan 21-14.
Leo sendiri merupakan atlet asal Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari, Kecamatan Klaten. Ia sudah mengenal bulutangkis sejak sejak kecil usia 1,5 tahun.
Baca Juga:Duh! Viral Warung Bakso di Klaten Kenakan Tarif AC ke Pembeli
"Sangat sekali dan mengharukan, Leo bisa mengandaskan peringkat-peringkat di atasnya. Biarpun peringkat Leo bawah, tapi dia bisa melawan," terang Ayah Leo,
Tri Efendi saat ditemui, Senin (28/9/2026).
Menurutnya usia 1,5 tahun itu Leo sudah mengenal lapangan mengikuti kakaknya bernama Samudra yang sempat jadi atlet bulutangkis. Setiap hari itu selalu ikut latihan bulutangkis kakaknya di Kota Solo.
"Umur 1,5 tahun sudah mengenal lapangan mengikuti kakaknya latihan. Setiap hari momong, pagi sore selalu ikut, jadi berempat kalau berangkat sama mamahnya juga," ungkapnya.
Pertama kali latihan saat kecil itu di PB Golden Star Kota Solo, di sana kurang lebih dua tahun. Terus Golden Star bubar pindah ke Karanganyar selama 6 bulan kemudian pindah ke PB PMS Solo.
"Masuk PMS itu Leo baru kelas satu SD tapi sudah pernah mengikuti kejuaraan kelompok usia dini di Serang dan juara. Jadi klub pertamanya itu di PB Golden Star," kata dia.
Baca Juga:Terungkap Kasus Penimbunan Solar Subsidi Ilegal di Klaten, Omzet Pelaku Rp200 Juta per Bulan
Selama 6 tahun latihan di PB PMS, kemudian Leo ikut seleksi PB Djarum. Sempat beberapa kali gagal lolos seleksi sebelum akhirnya lolos di PB Djarum tahun 2015.
"Beberapa kalau audisi di PB Djarum itu lewat terus, tersingkir terus. Sempat ikut audisi di PB Jaya Raya, tapi karena masih dianggap kecil, gagal," ujarnya.
"Meski gagal lolos audisi tapi terus latihan, itu jadi motivasi. Akhirnya masuk di PB Djarum dan tahun 2017 masuk pelatnas," lanjut dia.
Tri menyebut setiap mau tanding itu selalu ngabari keluarga untuk minta doa dan dukungan. Keluarga tetap memberi support dan dukungan, biasanya juga nonton bareng di TV.
"Tiap mau main selalu ngabari, tiap hari WA atau telpon kalau mau main 'main pak, mas'. Kita juga selalu menyaksikan kalau pas main, kadang tidak ditayangkan itu nonton streaming," ungkapnya.
Tri bersama keluarga yang lain sempat deg-degan pas final lawan China kemarin, apalagi sudah tertinggal 2-0. Tapi akhirnya bisa mengembalikan keadaan dan menang 3-0.