- Mantan narapidana teroris Bom Bali 1, Jack Harun, meraih gelar Magister Pendidikan Pancasila dari UNS Solo pada tahun 2025 dengan IPK 3,75.
- Sejak bebas penjara tahun 2008, Jack Harun aktif mengajar dan mengisi seminar tentang Pancasila di berbagai kampus serta instansi pemerintah.
- Jack Harun mendirikan yayasan sosial ekonomi dan merangkul mantan narapidana teroris untuk berbaur serta mendukung penuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
SuaraSurakarta.id - Joko Triharmanto atau lebih dikenal Jack Harun merupakan salah satu mantan narapidana kasus teroris Bom Bali 1.
Meski punya masa lalu yang kelam sebagai perakit bom. Kini Jack Harun dikenal akademisi atau dosen yang mengajar diberbagai perguruan tinggi maupun sekolah.
Apalagi sekarang Jack Harun menyandang gelar Magister Pendidikan Pancasila dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada tahun 2025.
Bahkan mampu lulus tercepat dalam waktu 1 tahun 10 bulan dengan IPK 3,75 di Program S2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
Baca Juga:Tahir Solo Museum Resmi Dibuka, Ada Fosil Dinosaurus 20 Meter!
Jack Harun bahkan sempat mendirikan Yayasan Gema Salam, yang merupakan wadah bagi mantan narapidana teroris (napiter). Juga mendirikan Yayasan Inspirasi Indonesia.
"Aktivitas sekarang lebih banyak mengajar, juga mengisi seminar-seminar. Yang rutin itu di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, itu setiap semester di awal pasti ada kuliah perdana, saya pengisinya," terangnya saat ditemui
Jack Harun menyebut mulai terjun di dunia pendidikan itu usai keluar dari penjara pada 2008 silam. Itu sudah mulai mengisi tapi tidak sesering sekarang, malah sampai rutin.
"Kita bebas kemudian mulai mengisi tapi belum sesering sekarang. Saat ada Yayasan Gema Salam juga sudah rutin sampai yayasan itu bubar terus sama buat lagi Yayasan Inspirasi Indonesia yang fokus di kegiatan dan ekonomi," ungkap dia.
Menurutnya untuk materi yang disampaikan itu soal pengalaman pribadi hingga cinta NKRI dengan menonjolkan ke Pancasila.
Baca Juga:Pembukaan Akses Secara Paksa, Kubu PB XIV Purboyo Tegas akan Lawan Usai dapat Ancaman dan Intimidasi
"Saya mencontohkan diri saya sendiri, dulu saya memusuhi NKRI, saya memusuhi Pancasila. Sekarang saya mengajar Pancasila," katanya.
Respon yang diterima sangat luar biasa, apalagi yang belum mengenal dan bertemu dirinya. Mereka bisa menerima, karena cenderung mengajarnya di instansi, kampus atau sekolah yang basicnya tidak agama Islam, seperti di UKDW.
"Justru mereka sangat semangat, antusias sekali dan pertanyaan-pertanyaannya banyak sekali. Saya juga masuk di Polda, seperti Jateng, dan DIY. Jadi mereka yang kaget dan antusias. Pernah mengajar juga di Undip dan Unes," jelas dia.
Ia menceritakan awal mula kenapa kuliah S2, dulu sering mengisi diberbagai acara. Waktu itu saat jadi narasumber acara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di UNS dengan salah satu pembicaranya itu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tapi yang hadir Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin.
"Saya sampaikan ke Pak Ganjar mau kuliah lagi S2, begitu ditawari Pak Ganjar saya langsung mau. Lalu diminta cari beasiswa untuk kuliah di UNS," kisahnya.
Dulu awalnya mau ngambil teknik mesin biar sesuai saat kuliah S1, bahkan sudah daftar. Tapi tidak bisa, tapi harus ngambil Pendidikan Pancasila, awalnya sempat menolak tapi karena beasiswa bisanya itu akhirnya mau.