- Rumah Jokowi di Solo muncul di Google Maps dengan nama "Tembok Ratapan Solo," diduga hasil kontribusi pengguna platform tersebut.
- Istilah tersebut cepat viral di media sosial, menjadi bahan narasi publik, namun ajudan menyatakan tidak tersinggung.
- Aktivitas di sekitar kediaman tetap normal; tidak ada pembatasan diberlakukan meskipun lokasi tersebut menjadi perbincangan.
SuaraSurakarta.id - Penandaan lokasi di Google Maps biasanya bersifat informatif. Namun, yang terjadi pada kediaman Presiden RI ke-7 Joko Widodo di Solo justru memicu perhatian publik.
Rumah yang terletak di kawasan Sumber, Banjarsari, mendadak muncul dengan nama tidak biasa: “Tembok Ratapan Solo”. Istilah ini kemudian menyebar luas di media sosial, memunculkan beragam reaksi, spekulasi, hingga diskusi publik.
Berikut adalah sejumlah fakta penting yang perlu dipahami dari peristiwa viral tersebut.
1. Kediaman Jokowi di Solo Mendadak Muncul dengan Nama Tidak Biasa di Google Maps
Baca Juga:Bakal Hadiri Rakernas PSI, Jokowi Datang Sebagai Kader?
Perhatian publik bermula ketika sejumlah pengguna internet menemukan bahwa lokasi rumah Jokowi di Google Maps ditandai dengan nama “Tembok Ratapan Solo”. Penamaan ini bukan berasal dari sumber resmi, melainkan diduga hasil edit atau kontribusi pengguna platform tersebut.
Google Maps memang memungkinkan pengguna untuk mengusulkan perubahan nama atau menambahkan lokasi baru. Karena bersifat terbuka, sistem ini terkadang dimanfaatkan untuk candaan, kritik, atau bahkan sindiran. Dalam kasus ini, penamaan tersebut langsung menarik perhatian karena berkaitan dengan tokoh nasional yang sangat dikenal publik.
Lokasi rumah Jokowi sendiri memang sering menjadi tujuan masyarakat yang ingin melihat langsung kediaman mantan presiden tersebut, terutama setelah masa jabatannya berakhir.
2. Viral di Media Sosial dan Menjadi Bahan Narasi Publik
Setelah muncul di Google Maps, istilah “Tembok Ratapan Solo” dengan cepat menyebar melalui berbagai platform media sosial. Salah satu akun yang ikut mempopulerkan narasi ini adalah akun @indopium, yang memposting video seorang pemuda di depan gerbang rumah Jokowi.
Baca Juga:Jokowi Blak-blakan Ungkap Pertemuan Rahasia dengan Dua Tersangka Kasus Ijazah Palsu di Solo
Video tersebut dinarasikan secara satir, seolah-olah lokasi itu menjadi tempat bagi generasi muda untuk “meratap”. Bahkan disebut sebagai salah satu spot yang sedang populer di kalangan Gen Z.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat mempercepat penyebaran sebuah istilah, terlepas dari konteks awalnya. Dalam waktu singkat, penamaan tersebut berubah dari sekadar edit lokasi menjadi topik pembicaraan nasional.
3. Ajudan Jokowi Menanggapi dengan Santai dan Tidak Tersinggung
Menanggapi viralnya penamaan tersebut, ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, menyampaikan respons yang tenang. Ia mengaku tidak merasa terganggu atau tersinggung dengan penyebutan tersebut.
“Kalau saya biasa saja,” ujarnya saat dihubungi pada Senin, 16 Februari 2026.
Respons ini menunjukkan bahwa pihak internal tidak menganggap penamaan tersebut sebagai sesuatu yang perlu ditanggapi secara serius. Sikap santai ini juga mencerminkan pendekatan yang tidak reaktif terhadap dinamika yang berkembang di ruang digital.
4. Tidak Ada Pembatasan Aktivitas di Sekitar Kediaman
Meskipun lokasi tersebut menjadi viral, tidak ada perubahan kebijakan terkait aktivitas di sekitar rumah Jokowi. Menurut Syarif, masyarakat tetap diperbolehkan datang dan berfoto seperti biasa.
Ia menegaskan bahwa tidak ada pembatasan khusus yang diberlakukan akibat viralnya penamaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan tetap berjalan normal dan tidak menimbulkan gangguan keamanan.
Kediaman Jokowi di Solo memang selama ini dikenal cukup terbuka, dengan masyarakat sering berkunjung untuk sekadar melihat atau berfoto di depan gerbang.
5. Belum Dipastikan Apakah Jokowi Sendiri Mengetahui Penamaan Tersebut
Menariknya, ajudan Jokowi juga menyatakan bahwa dirinya belum mengetahui secara pasti apakah Jokowi sendiri sudah mengetahui soal penamaan tersebut di Google Maps.
“Ya, saya sudah tahu. Enggak tahu Bapak sudah tahu atau belum,” ujarnya.
Pernyataan ini menandakan bahwa informasi tersebut belum tentu sampai langsung kepada Jokowi. Hal ini juga memperlihatkan bahwa tidak semua isu viral di media sosial langsung menjadi perhatian tokoh yang bersangkutan.
6. Istilah “Tembok Ratapan” Memiliki Makna Historis dan Religius yang Mendalam
Secara historis, istilah Tembok Ratapan merujuk pada Tembok Barat di Yerusalem, yang merupakan situs suci bagi umat Yahudi. Dalam bahasa Arab disebut al-Haaith al-Mubky, sedangkan dalam bahasa Ibrani dikenal sebagai Kotel HaMaaravi.
Tembok ini merupakan sisa dari kompleks Bait Allah Kedua yang dibangun pada masa Raja Herodes sekitar tahun 20 sebelum Masehi. Setelah penghancuran Yerusalem oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, bagian tembok ini tetap bertahan dan menjadi simbol penting dalam sejarah Yahudi.
Selama berabad-abad, tembok tersebut menjadi tempat umat Yahudi berdoa dan meratapi kehancuran Bait Allah. Tradisi ini terus berlangsung hingga sekarang, menjadikan Tembok Ratapan sebagai salah satu situs keagamaan paling penting di dunia.
7. Penamaan Ini Lebih Bersifat Simbolik dan Tidak Memiliki Makna Resmi
Dalam konteks kediaman Jokowi di Solo, penggunaan istilah “Tembok Ratapan” tidak memiliki makna resmi atau historis seperti di Yerusalem. Penamaan ini lebih bersifat simbolik, satir, atau bagian dari ekspresi publik di ruang digital.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana simbol dan istilah historis dapat digunakan kembali dalam konteks modern, terutama di era media sosial. Namun, penting untuk dipahami bahwa penamaan tersebut tidak mengubah fungsi atau status asli lokasi tersebut.
Pihak terkait juga tidak mengambil langkah khusus untuk menghapus atau mengoreksi penamaan tersebut, setidaknya hingga saat ini.
Kasus viralnya penamaan “Tembok Ratapan Solo” menunjukkan bagaimana ruang digital dapat membentuk persepsi publik dengan cepat. Sebuah edit sederhana di Google Maps dapat berkembang menjadi topik nasional dalam hitungan hari.
Respons santai dari pihak ajudan Jokowi juga menunjukkan bahwa tidak semua fenomena viral perlu ditanggapi secara berlebihan. Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi contoh bagaimana interaksi antara teknologi, publik, dan tokoh nasional terus berkembang di era digital.
Kontributor : Dinar Oktarini