Senada juga disampaikan warga lain, Madiman (72) yang juga selalu datang setiap grebeg maulud ini. Ia pun dapat berbagai macam dari gununga , seperti cabai merah, bilah bambu, dan semacam tape ketan.
"Biasanya tak simpan biar dapat berkah dan barokah. Kalau bilah bambu buat dijadikan pancing," sambung dia.
Penghulu Tafsir Anom Masjid Agung Solo, KRAT Muhtarom mengatakan sekatenan ini merupakan tradisi mengenang kelahiran Nabi Muhammad. Perayaaan ini sudah ada sejak era Kerajaan Demak dan diselenggarakan selama 7 hari.
"Ini sudah bagian dari budaya Keraton yang ada sejak Demak bahwa Sekaten itu dilaksanakan sepekan," terangnya saat ditemui, Senin (16/9/2024).
Baca Juga:Keributan Pecah di Sekaten! Tabuh Gamelan Berujung Adu Pukul Kubu LDA vs Raja Keraton Solo
Menurutnya grebeg maulud ini digelar bertepatan bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad yang menjadi puncak perayaan dari Sekatenan.
Saat proses grebeg, lanjut dia, terdapat gunungan yang berisi hasil bumi yang diarak untuk dibagikan ke masyarakat secara merata.
"Setelah proses dari tanggal 9 kemarin, Gamelan masuk dan dibunyikan selama sepekan. Inilah hari terkahir bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad," kata dia.
Terpisah Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, Pareden Garebeg Mulud Tahun JE 1958 diadakan atas perintah PB XIII dan dibiayai secara utuh oleh PB XIII.
"Jadi PB XIII memberikan pasang gunungan (2 putri, 2 laki-laki), berikut dengan isi dari kotak camtoko (gunungan)," jelasnya.
Baca Juga:Pasar Malam Sekaten Jadi Polemik: Raja Keraton Solo vs Event Organizer, Siapa yang Salah?
Gusti Dipo menambahkan PB XIII, GKR Pakoe Boewono, Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, GKR Timoer Rumbai, Gusti Devi, Gusti Ratih, dan Gusti Putri Purnaningrum, dalam acara adat ini juga membagikan udig-udig di depan Pintu Kamandungan Keraton Surakarta Hadiningrat.