"Akhirnya makin dalam lah gue ngga ngerti pelajarannya. Mulailah saya frustasi, mulailah saya jadi bahan ledekan, karena depresi . Seolah-olah saya dianggap orang udah mengarah ke sinting lah, beneran!," bebernya.
Meskipun saat itu ia tinggal di rumah kakanya yang mewah, namun Hotman Paris tetap merasa depresi karena merasa masa depannya suram.
“Saya benar-benar frustasi banget, saya tinggal di rumah kakak saya di Sunter hijau. Rumahnya sih bagus karena ekonomi cukup, tapi karena saya merasa masa depan saya ngga ada dan di pendidikan selalu di ledek, jadi gue keringat dingin jadi bahan tertawaan,” jelasnya.
Hingga pada suatu pagi, Hotman Paris berencana untuk bunuh diri karena tak kuat menanggung depresi. “Suatu pagi hari sampai saya mau minum obat serangga,” ungkapnya.
Baca Juga:Bule Kanada Tewas Tenggelamkan Diri Pakai Pemberat Batu ke Kolam Renang Vila di Seminyak Bali
Namun keinginannya tersebut akhirnya diurungkannya ketika melihat sosok tukang becak yang tampak bahagia.
“Tapi pada saat saya mau minum begitu, tiba-tiba di persimpangan depan rumah banyak tukang becak lagi ketawa-ketawa maen gaplek. Dan betapa bahagianya mereka ketawa, disitulah saya baru sadar tukang becak aja bisa ketawa-ketawa, aku sarjana hukum BI kenapa ngga (bisa)?,” tanyaya heran pada diri sendiri.
Hotman Paris akhirnya mengurungkan niatnya untuk bunuh diri dan bangkit mengejar cita-citanya.
“Akhirnya gue lempar itu (obat) serangga dan OK berjuang! harus mulai lagi! harus cari (pekerjaan baru), harus keluar dari BI!, “ ucap Hotman Paris.