Dijelaskan, jika pintu dibuat oleh keraton atas persetujuan Sinuhun PB XII. Karena banjir tahun 1966 di Solo cukup parah, di keraton yang temboknya besar dan tinggi seperti kolam.
Airnya besar waktu itu dan tidak bisa keluar meski ada pintu di segala arah. Menurut cerita itu air datang tiba-tiba, tidak ada hujan.
"Bisa dibayangkan dulu air setinggi itu bisa bertahan lama. Air datang itu malam sampai siangnya, tidak ada hujan dan tahu-tahu air datang," sambungnya.
Kenapa menjebol yang disebelah barat, karena yang sebelah selatan itu ambruk tembok bentengnya. Supaya tidak berbahaya meruntuhkan sisi tembok yang lain dan untuk jalut pengungsian, akhirnya jebol yang barat.
"Jadi bisa dikatakan pintu itu saksi bisu terjadinya banjir besar di Solo tahun 1966," ungkap dia.
Hingga sekarang pintu butulan itu masih ada dan dipakai buat akses atau sebagai jalan pintas masyarakat.
Karena setelah peristiwa banjir itu tidak ada rencana untuk menutup lagi, sehingga masih bertahan hingga sekarang.
"Dipakai buat jalan pintas atau cegatan, daripada masyarakat harus memutar. Jadi untuk aktivitas masyarakat dan sangat berguna sekali, akhirnya tidak ditutup," imbuhnya.
Kontributor : Ari Welianto
Baca Juga:Tak Boleh Bertemu Raja, Putri Keraton Solo Menangis