Sementara sang kernet bus hanya menurutnya hanya berucap "Tenang-tenang jangan panik. Tidak apa apa."
"Dalam hati saya, saya takbir. Apapun yang akan terjadi nanti saya sudah pasrah," ucapnya berkaca-kaca.
Ketika bus sudah semakin tak terkendali, dia lalu berdiri menghampiri istri dan kedua anaknya yang duduk persis di belakang sopir bus.
"Saya rangkul, saya takbir. Terus Dengar suara 'der', 'der', 'der'. Saya menuju ke istri dan anak saya, saya rangkul, tangan saya berpegangan dengan istri, kedua anak saya di tengah," jelasnya.
Posisi Yuli menghadap ke belakang memegang erat tangan sang istri, hingga dirinya sempat pingsan. Posisi itu Yuli pertahankan hingga bus berhenti.
Dirinya siuman ketika mendengar tangisan anaknya yang paling kecil. Lalu dirinya keluar, dan menatih keluar dari bus sang istri dan anaknya yang tak bisa bergerak.
Tak Terkendali
Saat suasana panik itu, dia melihat wajah sopir sudah pucat pasi sembari panik sembari memegang stir dan porseneleng yang semakin tak terkendali.
"Saya sempat berpikir, melihat kondisi sopir sudah trouble. Saya sendiri berpikir, ya sudah, untuk anak dan istri saya pasrah," jelasnya.
Baca Juga:KNKT Selidiki Kecelakaan Bus pariwisata di Imogiri yang Tewaskan 13 Orang
Ketika bus sudah berhenti, dia melihat teman-teman satu busnya sudah tergeletak, bahkan beberapa ada yang penuh darah.