facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pemkot Surakarta Kebut Tangani Kawasan Kumuh, Gibran: Tahun 2022 Hingga 2024 Kita Bebaskan

Budi Arista Romadhoni Kamis, 27 Januari 2022 | 12:12 WIB

Pemkot Surakarta Kebut Tangani Kawasan Kumuh, Gibran: Tahun 2022 Hingga 2024 Kita Bebaskan
Menko PMK Muhadjir Effendy dan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka berbincang dengan salah watu warga di Solo, Selasa (25/1/2022). [ANTARA/Aris Wasita]

Kawasan kumuh menjadi perhatian Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Beragam cara dilakukan untuk menanggani hal tersebut

“Lebih cepat dari target 2023, nanti kita harapkan selesai pada tahun ini. Bahkan di wilayah Semanggi Selatan sudah bisa ditempati,” ujar Muhadjir Effendy.

Penanganan kawasan kumuh oleh Pemerintah dan swasta atau CSR, lanjut Muhajir, akan dijadikan model penyelesaian kemiskinan ekstrim di seluruh kota-kota di Indonesia.

“Solo sebagai pilot project atau model yang nanti diharapkan menjadi semacam prototipe, untuk menyelesaikan persoalan pemukiman kumuh di daerah lain,” katanya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengatakan, saat ini program sudah mulai berjalan. Dia menargetkan penataan kawasan kumuh Kota Solo rampung pada 2022.

Baca Juga: Pede Hadapi Piala Gibran 2022, Tim Siwo Surakarta Matangkan Persiapan, Kini Asah Penyelesaian Akhir

“Kita harapkan 2022 sudah selesai semua. Untuk itu kita kumpulkan semua sumber-sumber dana dari berbagai lini untuk menyelesaikan ini secara keroyokan,” katanya.

Sumber dana tersebut, antara lain berasal dari program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan yang digandeng pemerintah. Bentuk dari penataan kawasan itu, antara lain adalah pembangunan rumah layak huni di kawasan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Pihaknya akan mempercepat pembangunan rumah layak huni, termasuk membantu mencarikan sumber dari CSR untuk pembangunan rumah layak huni.

Muhadjir menjelaskan, penataan kawasan kumuh penting dilakukan. Hal ini merupakan langkah awal untuk pengentasan kemiskinan.

“Ini penanganan tema besarnya kemiskinan, lebih spesifik kemiskinan ekstrem yang 70 persen di wilayah kantong. Karena di kantong, maka pendekatannya ekosistem, tidak bisa orang per orang, rata-rata umumnya pasti tinggal di rumah tidak layak huni, kumuh, sanitasi jelek dan langka air bersih, pendekatan tidak mungkin tidak dengan pendekatan lingkungan,” terangnya.

Baca Juga: Gibran Marten Jawab Isu Gading Marten dan Gisella Anastasia Kembali Rujuk

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait