Budaya Minum Teh di Kota Solo Ternyata Warisan Kolonial Belanda

Masyarakat Kota Solo memiliki tradisi minum teh setiap harinya, teh yang diminum pun memiliki ciri khas yang unik

Budi Arista Romadhoni
Senin, 13 Desember 2021 | 11:16 WIB
Budaya Minum Teh di Kota Solo Ternyata Warisan Kolonial Belanda
Ilustrasi minum teh. Masyarakat Kota Solo memiliki tradisi minum teh setiap harinya, teh yang diminum pun memiliki ciri khas yang unik. (Sumber: Shutterstock)
Sartini, 63, salah satu pedagang teh oplosan di Pasar Gede Solo. Foto diambil Jumat (10/12/2021). [Solopos,com/Chelin Indra Sushmita]
Sartini, 63, salah satu pedagang teh oplosan di Pasar Gede Solo. Foto diambil Jumat (10/12/2021). [Solopos,com/Chelin Indra Sushmita]

Tetapi jangan salah, Heri menyatakan bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di masa lalu pernah memiliki perkebunan teh di Ngampel, Boyolali. Budidaya tanaman teh yang dijajal kaum aristokrat itu diberi nama Madusita. Fakta itu terekam dalam Serat Biwadha Nata. Madusita terdiri dari dua kata yang sarat makna, yaitu madu (manis), sita (hati/dingin).

Madusita juga dijadikan nama pesanggrahan untuk raja beristirahat. Istilah Madusita ini bermakna Sinuhun Paku Buwana merasa hatinya tentram dan manis seperti madu saat berkunjung ke pesanggrahan yang berada di sekitar perkebunan teh.

Wilayah Ampel, Boyolali, dipilih sebagai lokasi perkebunan karena berada di dataran tinggi dengan iklim tropis yang tanahnya subur. Namun sampai saat ini belum terlacak titik sebaran hasil panen teh yang digarap Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu.

Kisah yang disampaikan Heri Priyatmoko itu membuktikan bahwa Keraton Solo memiliki peranan dalam mengembangkan usaha perkebunan teh dan membentuk budaya ngeteh di tanah Jawa. Hingga saat ini teh menjadi komoditas yang dijual di berbagai tempat, mulai dari angkringan pinggir jalan hingga restoran mewah kelas satu.

Baca Juga:Bima Arya Intens Bertemu Gibran, Tanggapi Begini saat Disinggung soal DKI 1

Guna memperkuat kultur ngeteh, pada Oktober 2012 silam sempat digelar Festival Teh Internasional di Kota Solo. Acara tersebut digelar di sepanjang koridor Ngarsapura yang menghadirkan 1.000-an penjual teh. Kota Solo dipilih sebagai tuan rumah Festival Teh Internasional pertama karena dianggap sebagai etalase teh di Indonesia.

Sampai saat ini teh menjadi salah satu ikon kuliner di Kota Solo yang sangat populer. Tiap angkringan di Kota Solo memiliki resep dan cara meracik teh yang berbeda. Bahkan budaya mencampur atau mengoplos teh diklaim hanya ada di Kota Solo.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini