alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Bahasa Arab dan Tak Hafal Nama Parpol Menjadi Ciri Paham Terorisme, Kiai Cholil: Penyesat!

Budi Arista Romadhoni Kamis, 09 September 2021 | 09:59 WIB

Bahasa Arab dan Tak Hafal Nama Parpol Menjadi Ciri Paham Terorisme, Kiai Cholil: Penyesat!
Logo Parpol Pemilu 2019. [Hops.id/KPU Banjar Baru]

Pengamat intelijen mengaitkan bahasa arab dengan paham terorisme

SuaraSurakarta.id - Tindakan Radikalisme atau faham terorisme memang tidak dibenarkan dan dilarang di Indonesia. Namun, ternyata tak hafal nama partai parpol dan sering menggunakan bahasa arab juga dianggap ciri-ciri radikal. 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Kiyai Muhammad Cholil Nafis ikut geram soal anggapan tersebut. Ia menanggapi anggapan soal tak hafal nama parpol dan keberadaan Bahasa Arab sebagai ciri-ciri adanya radikal atau faham terorisme.

Menyadur dari Hops.id, Kiai Cholil mengaku heran dengan pernyataan tersebut, dia pun menyindir Susaningtyas bahwa tidak memahami bahasa Arab sehingga disangkutkan dengan teroris.

Oleh sebabnya dia mengatakan, Susaningtyas bukanlah pengamat melainkan sosok penyesatan.

Baca Juga: Sudah 5 Bulan Meringkuk di Penjara karena Kasus Terorisme, Begini Kondisi Munarman

 “Mengamati atau menuduh. Gara-gara tak mengerti bahasa Arab maka dikiranya sumber terorisme atau dikira sedang berdoa hahaha. Ini bukan pengamat tapi penyesat,” ujarnya, Kamis, (9/9/2021).

Kemudian, Kiyai Cholil juga mengomentari pernyataan Susaningtyas yang menganggap orang yang tak hafal nama-nama parpol merupakan ciri radikalisme.

“Masa’ tak hafal nama-nama parpol dianggap radikal, nanti kalau tak kenal nama-nama menteri dikira tak nasionalis. Kacau nihh logikanya,” tuturnya.

Pakar intel buka-bukaan: Banyak sekolah di Indonesia berkiblat ke Taliban hingga soal Bahasa Arab

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Pakar militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati mengungkap kalau saat ini banyak sekolah di Indonesia sudah berkiblat pada Taliban. Hal ini bukan sekadar omong kosong belaka, sebab fakta ini sudah menjadi penelitian umum yang dilakukan oleh sejumlah universitas, termasuk UI.

Baca Juga: Sahabat: Hentikan Kriminalisasi, Terorisasi, dan Fitnah terhadap Munarman

Hal ini diungkapkan Susaningtyas dalam program Crosscheck, dikutip Hops.id, Selasa 7 September 2021. Salah satu ciri-ciri sekolah Indonesia yang berkiblat ke Taliban, kata dia, para anak didiknya termasuk sang guru tak mau hormat ke bendera.

Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati. [Ist]
Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati. [Ist]

“Mereka juga tak mau pasang foto presiden dan wapres. Lalu mereka tak mau menghafal menteri-menteri, tak mau menghafal parpol-parpol,” kata dia.

Gerakan sekolah yang berkiblat Taliban perlu diwaspadai!

Gerakan sekolah yang berkiblat pada Taliban ini, tentu harus diwaspadai. Karena sekolah merupakan pabrik pencetak para pemimpin negeri di masa depan, sekolah pula yang mencerdaskan bangsa.

Maka itu, kasus ini dianggap harus menjadi perhatian bagi Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, BIN, BNPT, TNI dan Polri.

Lebih jauh, eks anggota DPR Komisi I ini juga mengatakan, sejauh ini sudah banyak pihak yang mengendorse kalau Taliban tak membahayakan bagi Indonesia. Pihak-pihak itupula yang kini mulai getol memperkenalkan Taliban versi baru ke rakyat RI.

Padahal itu semua, kata dia, cuma akal-akalan belaka. “Saya syok mendengar itu, bagaimana ada orang-orang yang sebut Taliban akan baik-baik saja, perempuan akan diurus dengan baik, bahkan sekelas pimpinan universitas juga bicara demikian,” katanya.

Terlepas dari itu, Susaningtyas menganggap Taliban tetap bisa menjadi ancaman bagi RI. Dirinya melihat betul bagaimana efek Taliban sudah mulai merusak sekolah-sekolah di Indonesia.

“Bagaimana saya tak khawatir, anak muda kita sudah tak mau lagi hormat pada bendera RI, tak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu diperbanyak bahasa Arab.”

“Bukan berarti Arab itu memiliki konotasi teroris, namun kalau arahnya ke terorisme bahaya. Karena sebenarnya mereka juga ingin berkuasa, ingin punya kekuasaan, tapi mereka ingin berkuasa dengan cara mereka sendiri,” katanya.

Maka itu, dia berharap ke depan pihak intelijen dapat membangun komunikasi dengan Taliban untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah mereka inginkan saat ini. Indonesia sendiri butuh data itu demi kehidupan damai ke depan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait