Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 08:44 WIB
Joko Triharmanto atau lebih dikenal Jack Harun saat ditemui. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • Mantan narapidana teroris Bom Bali 1, Jack Harun, meraih gelar Magister Pendidikan Pancasila dari UNS Solo pada tahun 2025 dengan IPK 3,75.
  • Sejak bebas penjara tahun 2008, Jack Harun aktif mengajar dan mengisi seminar tentang Pancasila di berbagai kampus serta instansi pemerintah.
  • Jack Harun mendirikan yayasan sosial ekonomi dan merangkul mantan narapidana teroris untuk berbaur serta mendukung penuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

SuaraSurakarta.id - Joko Triharmanto atau lebih dikenal Jack Harun merupakan salah satu mantan narapidana kasus teroris Bom Bali 1. 

Meski punya masa lalu yang kelam sebagai perakit bom. Kini Jack Harun dikenal akademisi atau dosen yang mengajar diberbagai perguruan tinggi maupun sekolah.

Apalagi sekarang Jack Harun menyandang gelar Magister Pendidikan Pancasila dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada tahun 2025. 

Bahkan mampu lulus tercepat dalam waktu 1 tahun 10 bulan dengan IPK 3,75 di Program S2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Jack Harun bahkan sempat mendirikan Yayasan Gema Salam, yang merupakan wadah bagi mantan narapidana teroris (napiter). Juga mendirikan Yayasan Inspirasi Indonesia.

"Aktivitas sekarang lebih banyak mengajar, juga mengisi seminar-seminar. Yang rutin itu di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, itu setiap semester di awal pasti ada kuliah perdana, saya pengisinya," terangnya saat ditemui 

Jack Harun menyebut mulai terjun di dunia pendidikan itu usai keluar dari penjara pada 2008 silam. Itu sudah mulai mengisi tapi tidak sesering sekarang, malah sampai rutin.

"Kita bebas kemudian mulai mengisi tapi belum sesering sekarang. Saat ada Yayasan Gema Salam juga sudah rutin sampai yayasan itu bubar terus sama buat lagi Yayasan Inspirasi Indonesia yang fokus di kegiatan dan ekonomi," ungkap dia.

Menurutnya untuk materi yang disampaikan itu soal pengalaman pribadi hingga cinta NKRI dengan menonjolkan ke Pancasila. 

Baca Juga: Tahir Solo Museum Resmi Dibuka, Ada Fosil Dinosaurus 20 Meter!

"Saya mencontohkan diri saya sendiri, dulu saya memusuhi NKRI, saya memusuhi Pancasila. Sekarang saya mengajar Pancasila," katanya.

Respon yang diterima sangat luar biasa, apalagi yang belum mengenal dan bertemu dirinya. Mereka bisa menerima, karena cenderung mengajarnya di instansi, kampus atau sekolah yang basicnya tidak agama Islam, seperti di UKDW.

"Justru mereka sangat semangat, antusias sekali dan pertanyaan-pertanyaannya banyak sekali. Saya juga masuk di Polda, seperti Jateng, dan DIY. Jadi mereka yang kaget dan antusias. Pernah mengajar juga di Undip dan Unes," jelas dia.

Ia menceritakan awal mula kenapa kuliah S2, dulu sering mengisi diberbagai acara. Waktu itu saat jadi narasumber acara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di UNS dengan salah satu pembicaranya itu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tapi yang hadir Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin.

"Saya sampaikan ke Pak Ganjar mau kuliah lagi S2, begitu ditawari Pak Ganjar saya langsung mau. Lalu diminta cari beasiswa untuk kuliah di UNS," kisahnya.

Dulu awalnya mau ngambil teknik mesin biar sesuai saat kuliah S1, bahkan sudah daftar. Tapi tidak bisa, tapi harus ngambil Pendidikan Pancasila, awalnya sempat menolak tapi karena beasiswa bisanya itu akhirnya mau.

"Awalnya menolak karena tidak bisa, apalagi dulu Pancasila tak musuhi. Tapi karena ada dorongan dan motivasi salah satu dari Pak Ganjar akhirnya bismillah menerimanya. Kemudian ikut ujian dan lulus, terus terang dulu benar-benar tidak paham dan ini tantangan," ujar dia.

"Satu kelas itu tidak banyak cuma 20- an ke bawah, saya paling tua. Saya lulus tercepat," imbuhnya.

Selain sebagai akademisi atau praktisi, Jack Harun juga mengurusi yayasan yang baru didirikan, yakni Yayasan Inspirasi Indonesia. Harapannya pengalaman teman-teman itu bisa menginspirasi masyarakat khususnya generasi muda.

"Jadi teman-teman yang belum NKRI, ya kita tunjukan kalau NKRI ini tidak salah. Itu lebih ke ekonomi dan sosial, karena selama ini faktor ekonomi masih menjadi kendala yang utama apalagi yang sudah bebas," ujarnya.

Jack Harun keluar penjara tahun 2008 lalu usai dipenjara 4,5 tahun, di mata masyarakat masih dipandang negatif. Untuk mencari kerja itu sulit, sehingga teman-teman yang lain itu banyak yang kerja serabutan.

"Dulu itu lebih sulit daripada sekarang, kalau sekarang sudah ada masa NKRI, itu lebih nyaman dan enjoy kalau ketemu sesama. Kalau dulu hanya satu dua, bahkan teman-teman itu dimusuhi termasuk di kalangan satu kelompok," jelas dia.

"Kalau memang sudah niat NKRI maka berbaur dan bertemu dengan masyarakat. Ya kerja bakti, pertemuan RT itu ikut, lama-lama akan berbaur walaupun awal-awal memang agak sulit, karena setelah bebas itu pantauannya masih ketat tapi lama-lama enjoy-enjoy saja," lanjutnya. 

Usai keluar penjara, sempat bekerja di salah satu restoran di Kota Solo, tapi tidak lama terus keluar. Bahkan sempat  membuka toko komputer selama dua tahun. 

Selanjutnya membuka wedangan (angkringan) di dekat Korem. Tapi hanya bertahan sembilan bulan, karena waktu itu musim hujan dan harus mendorong gerobak serta menata. 

"Saya memang suka kuliner, jadi setelah keluar penjara itu saat ikut di salah satu resto di Solo miliknya teman. Di sana tidak lama, tidak sampai tahun," ceritanya.

Kemudian membuka warung soto tahun 2010 di daerah Cemani Sukoharjo dan cukup laris. Bahkan sempat membuka cabang di daerah Kalitan, itu cukup lama sebelum akhirnya tutup satu tahun ini.

"Warung soto sekarang berhenti, karena memang persaingannya ketat sekali apalagi harga barang-barang naik. Dulu membuka warung soto itu untuk mensosialisasikan kita bersosialisasi dengan masyarakat, kalau saya harus ketemu dengan orang banyak kan susah kalau tidak ada media. Maka dengan warung soto itu banyak orang yang datang meski awal-awal banyak menyebut warungnya teroris itu lama-lama banyak yang datang, ada juga yang sekalian ngobrol-ngobrol," papar dia.

"Dulu setiap jumat diadakan jumat barokah, kita gratiskan semua," ucapnya.

Meski sudah lama bebas dan menjadi akademisi atau praktisi, ia masih merangkul teman-teman pernah terlibat terorisme. Melakukan pendekatan secara personal, bahkan menjadikan dirinya sebagai tempat curhat.

"Dulu keliling ke teman-teman, bahkan sampai ke Brebes, Tegal saya datangi ke rumahnya. Jadi saya betul-betul lihat kebutuhannya apa atau kendalanya ini. Sampai kita punya data, anaknya berapa dan sekolah di mana," jelas dia.

Jack Harun bercerita tertangkap itu tahun 2004 usai pelarian dua tahun setelah kasus Bom Bali terjadi. Sempat pindah ke beberapa daerah, seperti Purwokerto, Yogyakarta hingga Purworejo.

Tertangkapnya itu saat berjualan es pisang ijo bersama istri di daerah Pabelan Sukoharjo.

"Saya baru satu bulan jualan langsung ditangkap, itu baru laris-larisnya," tandasnya.

Jack Harun mengaku mulai ada pemikiran bertobat dan gabung NKRI itu di awal-awal ditangkap. Saat ditangkap itu dulu diserahkan barang bukti sekitar 800 butir peluru dan sisan bahan bom yang disimpan di rumah orang tua di Kulon Progo. 

Dipikirnya aman tapi begitu ditangkap diserahkan semua, saat pengambilan barang bukti itu melihat orang tua menangis. 

"Saat itu saya berpikiran, saya telah membuat orang tua menangis yang tahunya saya di Solo itu kuliah dan bekerja. Ibu saya itu guru dan bapak pegawai, lalu saya punya niat ingin berhenti dan bertobat tapi masih bingung," tutur dia.

Jack Harun menambahkan selama ini masih sering diundang saat upacara HUT RI di Semarang. Bahkan sering diundang dalam berbagai acara oleh pemerintah.

"Setiap upacara 17 Agustus sering diundang. Biasanya di Semarang, kalau di Jakarta belum pernah," tandasnya.

"Berharap kepada generasi muda untuk banyak-banyak belajar, mencari guru yang tepat bisa membawa diri sendiri, keluarga, bangsa yang lebih baik dan maju," pungkas dia.

Kontributor : Ari Welianto

Load More