- Siswa TK Gaya Baru III di Kota Solo belajar di gedung rusak dengan ancaman atap roboh.
- Kepala sekolah menyatakan kerusakan bangunan berawal sejak tahun 2018 akibat keterbatasan biaya perbaikan mandiri.
- Wali Kota Solo Respati Ardi berjanji segera memperbaiki fasilitas pendidikan yang membahayakan keselamatan siswa tersebut.
SuaraSurakarta.id - Siswa Taman Kanak-kanak (TK) Gaya Baru III Kampung Ngoresan, Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Solo harus belajar di ruangan yang kondisinya cukup memprihatinkan.
Di mana plafon atap di sejumlah ruangan sudah terlepas dan atap gedung melengkung. Kerangka atap telah lapuk, hingga kuda-kuda bangunan gedung sudah tampak retak.
Kondisi itu dikhawatirkan sangat membahayakan dan sewaktu-waktu bisa roboh menimpa siswa.
Kepala Sekolah TK Gaya Baru III, Nanik Santoso mengatakan kondisi seperti ini sudah cukup lama. Awalnya cuma di bagian atap tapi lama-lama kondisinya semakin parah meski pernah diperbaiki.
"Awalnya itu cuma atap. Sudah jatuh sendiri plafonnya kayak gitu. Sudah sempat diganti, tapi sekarang sudah nggak bisa," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya dulu plafon di salah satu ruang kelas pernah ambruk dan menimpa guru. Itu langsung ganti plafon tapi ini kondisinya sudah mau ambruk.
"Dulu sempat ambruk dan menimpa guru, kita pas ada di ruangan trus terus bruk ambruk. Terus ganti plafon, tapi lama-lama sudah mau roboh labi," ungkap dia.
Nanik menyebut TK Gaya Baru III ini sudah berdiri tahun 1980, memiliki bangunan sekolah seluas 90 meter persegi. Namun lambat laun kondisinya mengalami kerusakan hingga saat ini.
"Ini sudah berdiri tahun 1980, lama-lama mengalami kerusakan. Puncaknya itu terjadi di tahun 2018, awal mulai muncul di sejumlah titik dan terus berlangsung hingga kini," katanya.
Baca Juga: Gara-gara Dua Mahasiswa Ditangkap Polisi, Aksi Demo di Solo Sempat Memanas
Nanik menjelaskan perbaikan sudah pernah dilakukan tapi hanya perbaikan kecil saja. Karena memang keterbatasan biaya.
"Saya pernah nempelin pakai kertas tapi tiba-tiba jatuh sendiri. Kertasnya nedel tak tarik langsung brul gitu lagi. Tidak berani megang, soalnya kalau dipegang sudah kerepek," jelas dia.
Kondisi kerusakan ini membuat atap menjadi berlubang. Saat hujan turun membuat air masuk dari atap yang bocor.
"Sekarang atap jadi bocor. Anak-anak mau masuk sepatu dilepas dan menunggu kering dulu. Jadi saat hujan itu air masuk, kayak grojogan sewu," ucapnya.
Untuk perbaikan selama ini masih mengandalkan sumbangan pembiayaan pendidikan (SPP) dan biaya operasional pendidikan (BOP).
Besaran SPPnya itu Rp 90.000 per bulan, tapi masih ada menunggak pembayaran selama dua tahun.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak
-
Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi
-
Undangan Sudah Diterima, Jokowi dan Ajudan Tegaskan Bakal Hadir Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo
-
Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'
-
Refleksi 100 Tahun Sumpah Pemuda, GSI Kumpulkan Ratusan Anak Muda Lintas Organisasi di Kota Solo