- BPS Jawa Tengah mencatat Kota Solo memiliki 412 kasus baru HIV/AIDS pada awal Maret 2026.
- Sebanyak 80 persen dari total temuan kasus HIV/AIDS di Solo berasal dari warga luar kota.
- Pemkot Solo mengoptimalkan layanan kesehatan serta edukasi formal dan nonformal guna menekan angka penularan penyakit.
“Banyak warga dari kabupaten sekitar memilih memeriksakan diri di Solo karena fasilitas kesehatannya lebih lengkap dan mereka merasa lebih nyaman menjaga privasi status kesehatannya,” paparnya.
Selain faktor layanan kesehatan, Retno menyebut pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba juga menjadi faktor risiko penularan HIV/AIDS. Oleh karena itu, Dinkes Kota Solo terus melakukan sinergi dengan berbagai pihak untuk memperkuat pencegahan dan penanggulangan.
Upaya tersebut di antaranya dilakukan melalui edukasi dan penyuluhan oleh puskesmas bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS serta Warga Peduli AIDS di tingkat kelurahan dan kecamatan.
“Dinkes juga bekerja sama dengan lintas sektor seperti Dinas Pendidikan. Di sekolah, penyuluhan dilakukan bersamaan dengan edukasi kesehatan reproduksi dan bahaya Napza. Kami juga bekerja sama dengan DP3AP2KB terkait sosialisasi keluarga yang berkualitas, setia pada pasangan, tidak berhubungan seks di luar nikah, dan juga skrining kepada ibu hamil baru. Karena setiap ibu hamil baru harus diperiksa HIV,” bebernya.
Retno menegaskan, penguatan layanan kesehatan juga terus dilakukan. Saat ini, seluruh puskesmas di Kota Surakarta sudah menjadi klinik PDP atau Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan bagi ODHIV.
“Kami juga melakukan penguatan layanan kesehatan. Seluruh puskesmas Surakarta sudah menjadi klinik PDP untuk ODHIV. Peningkatan jejaring layanan dengan LSM juga dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus putus berobat atau lost to follow up, serta pemeriksaan konseling dan tes bagi populasi kunci yang dilaksanakan tim puskesmas bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat,” tambahnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Surakarta berharap penanganan HIV/AIDS dapat dilakukan secara lebih aktif, terarah, dan berkelanjutan. Pemerintah juga mendorong masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada ODHIV, agar warga yang berisiko tidak takut melakukan pemeriksaan dan bisa segera mendapatkan pengobatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Aksi Nekat Maling di Kadipiro Gagal Total, Tim Sparta Polresta Solo Amankan Terduga Pelaku
-
Solo Disebut Urutan Kedua Kasus HIV/AIDS di Jateng, Ini Respon Respati Ardi
-
Tim Gabungan Polresta Solo Perketat Pengawasan Tempat Hiburan Malam Jelang Libur Panjang
-
Daya Beli Masyarakat Ambyar, Penjualan Hewan Kurban di Kota Solo Turun 20 Persen
-
Marak Teror Pocong Viral di Media Sosial, Polresta Solo Imbau Warga Tetap Waspada