- Polres Wonogiri menetapkan seorang anak berinisial R (11), teman sekelas korban DRP (11), sebagai pelaku utama kematian santri tersebut.
- Insiden tragis terjadi pada 14 Februari 2026 di kelas akibat pertengkaran saling ejek yang meningkat menjadi kekerasan fisik.
- Korban meninggal setelah dijegal, kepalanya membentur lantai, lalu ditindih, dan ditemukan kejanggalan darah sebelum diotopsi.
SuaraSurakarta.id - Kasus kematian seorang santri di pondok pesantren Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, akhirnya menemukan titik terang. Polisi menetapkan seorang anak berusia 11 tahun sebagai pelaku atas meninggalnya DRP (11), yang merupakan teman sekelasnya sendiri.
Peristiwa tragis ini mengejutkan keluarga korban, pihak pesantren, serta masyarakat luas. Awalnya, kematian korban dianggap sebagai kejadian biasa. Namun sejumlah kejanggalan yang ditemukan keluarga mendorong polisi untuk melakukan penyelidikan mendalam, hingga akhirnya mengungkap fakta sebenarnya. Berikut enam fakta penting yang terungkap dalam kasus ini.
1. Polisi Tetapkan Anak 11 Tahun sebagai Pelaku
Setelah melalui proses penyelidikan dan pemeriksaan saksi, Polres Wonogiri menetapkan satu orang anak sebagai pelaku. Pelaku diketahui berinisial R (11), yang merupakan teman sekelas korban di pondok pesantren tersebut.
Kasatreskrim Polres Wonogiri, IPTU Agung Sedewo, menyampaikan bahwa penetapan status pelaku dilakukan berdasarkan hasil penyidikan yang telah dikumpulkan.
"Dari serangkaian penyidikan dan penyelidikan, saat ini kita sudah menetapkan anak sebagai pelaku, satu orang," jelas IPTU Agung Sedewo, Rabu (18/2/2026).
Penetapan ini menjadi titik penting dalam pengungkapan penyebab kematian korban yang sebelumnya masih menjadi tanda tanya.
2. Pertengkaran Berawal dari Saling Ejek di Dalam Kelas
Insiden tragis tersebut terjadi pada Sabtu, 14 Februari 2026, di ruang kelas pondok pesantren. Berdasarkan keterangan polisi, pertengkaran bermula dari saling ejek antara korban dan pelaku.
Baca Juga: Wonogiri Heboh Kasus Pembunuhan Lagi, Kini Wanita Paruh Baya Diduga Dihabisi Anak Kandung
Ejekan tersebut berkaitan dengan nama orang tua dan candaan yang menjodoh-jodohkan dengan teman perempuan.
"Masalahnya terlibat saling ejek nama orang tua dan dijodoh-jodohkan dengan teman perempuan," ungkap IPTU Agung Sedewo.
Awalnya, pertengkaran hanya berupa adu mulut. Namun situasi kemudian berubah menjadi konflik fisik yang berujung fatal.
3. Korban Dijegal hingga Kepalanya Membentur Lantai
Ketegangan yang meningkat menyebabkan pelaku melakukan tindakan fisik terhadap korban. Korban dijegal hingga terjatuh ke lantai.
Benturan kepala korban dengan lantai diduga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kondisi korban memburuk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Projek-D Vol.5 Hadirkan Empat Panggung dan Puluhan Musisi di De Tjolomadoe
-
Duh! Gusti Moeng Diancam Disomasi 2x24 Jam dan Dituduh Curi Gamelan Sekaten
-
BRI Hadirkan Momen Haru, Yuni Lestari Bertemu Sang Ibu Setelah 10 Tahun di Taiwan
-
BRI Perluas Ekosistem Digital di Taiwan Lewat Peluncuran BRImo Taiwan
-
Oktafianus Fernando Resmi Gabung Persis Solo, Bidik Promosi Super League