- Polres Wonogiri menetapkan empat santri di bawah umur sebagai pelaku penganiayaan hingga menyebabkan korban M (12) meninggal.
- Rekonstruksi 26 adegan dilakukan di pondok pesantren terkait penganiayaan berulang yang terjadi pada 13 dan 14 Desember 2025.
- Proses hukum terhadap empat pelaku akan mengikuti Sistem Peradilan Pidana Anak dengan melibatkan Bapas dan Kementerian Sosial.
SuaraSurakarta.id - Polres Wonogiri membongkar kasus penganiayaan sesama santri yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
Santri berinisial M (12) harus meregang nyawa usai dianaya rekannya sendiri.
Polisi kini menetapkan empat orang santri yang masih di bawah umur sebagai pelaku penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Keempat pelaku tersebut masing-masing berinisial AG (14), AL (14), A (9), dan NS (12). Penetapan ini dilakukan setelah penyidik Satreskrim Polres Wonogiri menggelar rekonstruksi sebanyak 26 adegan di lokasi kejadian, yakni kamar pondok pesantren tempat para pelaku dan korban bermukim.
"Kami telah menetapkan 4 santri sebagai pelaku. Kemarin juga sudah dilakukan rekonstruksi sebanyak 26 adegan, di mana para pelaku memperagakan kejadian secara sinkron sesuai hasil penyidikan,” ujar Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Iptu Agung Sadewo, Kamis (25/12/2025).
Berdasarkan hasil penyidikan, korban diketahui mengalami perundungan (bullying) serta penganiayaan fisik secara berulang pada Sabtu (13/12/2025) dan Minggu (14/12/2025).
Akibat luka lebam di sekujur tubuh, nyawa MMA tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Senin (15/12/2025).
Keluarga yang merasa curiga dengan kondisi jenazah melaporkan kejadian ini ke Polres Wonogiri pada Rabu (17/12/2025).
Merespons laporan tersebut, tim forensik melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam pada Jumat (19/12/2025) guna memastikan penyebab medis kematian korban.
Baca Juga: Wonogiri Heboh Kasus Pembunuhan Lagi, Kini Wanita Paruh Baya Diduga Dihabisi Anak Kandung
Mengingat para pelaku masih berusia anak-anak, Agung menegaskan, proses hukum akan mengikuti Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).
Kepolisian juga melibatkan Balai Pemasyarakatan (Bapas), Kementerian Sosial, serta penasihat hukum untuk mendampingi para pelaku selama proses penyidikan.
“Ini adalah perkara khusus karena melibatkan anak di bawah umur. Kami sangat berhati-hati dan terus berkoordinasi dengan instansi terkait,” imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Bertemu Presiden Prabowo, Jokowi Akui Tak Bahas Putusan MK, Tapi Kemenangan Timnas Indoenesia
-
Jokowi Buka Suara Soal Polemik Ijazah Gibran: Setiap Negara Punya Sistem Berbeda!
-
Melihat Batik 'Rona Nusantara' Karya Syarif Abdillah, Siswa SMA Muhammadiyah 6 Surakarta
-
Bawaslu Solo Buka Suara Soal Ijazah Gibran di Pilkada 2020
-
Soal Ijazah Gibran, KPU Solo Tegaskan Sudah Lakukan Verifikasi Secara Faktual