- Konflik kepemimpinan antara Pakubuwono XIV Purbaya dan Hangabehi tetap memanas, ditandai aksi saling mengganti gembok akses Keraton Surakarta.
- Lembaga Dewan Adat (LDA) mengonfirmasi penggantian gembok sebagai respons pengamanan kawasan keraton oleh kelompok mereka.
- Penggantian gembok ini berdampak langsung pada penutupan Museum Keraton, merugikan masyarakat dan program konservasi budaya.
SuaraSurakarta.id - Konflik internal di Keraton Kasunanan Surakarta kembali memanas. Meski dua tokoh utama yang berseteru, Pakubuwono XIV Purbaya dan Pakubuwono XIV Hangabehi, telah bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ketegangan di lingkungan keraton belum juga mereda.
Aksi saling mengganti gembok kembali terjadi dan memperlihatkan bahwa konflik kepemimpinan serta penguasaan akses keraton masih berlangsung. Berikut rangkuman fakta terbaru yang menggambarkan situasi terkini di Keraton Surakarta.
1. Aksi Ganti Gembok Kembali Terjadi
Drama gembok di Keraton Surakarta kembali terulang. Sejumlah akses di kawasan keraton kembali diganti gemboknya oleh pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat.
Aksi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, kubu Pakubuwono XIV Purbaya diketahui lebih dulu menggerinda gembok secara paksa dan menggantinya dengan gembok baru. Kini, pihak LDA yang mendukung Pakubuwono XIV Hangabehi melakukan langkah serupa dengan kembali mengganti gembok tersebut.
Situasi ini membuat akses keluar masuk kawasan keraton kembali terbatas dan memicu kekhawatiran publik atas kelangsungan fungsi keraton sebagai ruang budaya.
2. LDA Buka Suara soal Penggantian Gembok
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, mengonfirmasi langsung tindakan penggantian gembok tersebut. Ia menyebut langkah itu dilakukan bersama Maha Menteri KG Panembahan Agung Tedjowulan serta keluarga besar sentono dalem.
“LDA bersama keluarga besar sentono termasuk dengan Panembahan Agung,” ujar KPH Eddy.
Baca Juga: Tinjau Talud Longsor di Nusukan, Respati Ardi Minta Penanganan Komprehensif
Menurutnya, penggantian gembok dilakukan sebagai respons atas kondisi di lapangan dan upaya mengamankan kawasan keraton sesuai versi pengelolaan yang diyakini pihaknya.
3. Dampak Langsung ke Masyarakat dan Museum Keraton
KPH Eddy menilai penguasaan akses kawasan keraton oleh pihak Sinuhun Purbaya justru membawa dampak negatif bagi masyarakat. Salah satu dampak paling nyata adalah tertutupnya Museum Keraton Surakarta untuk publik.
Ia menegaskan bahwa keraton bukan hanya milik satu kelompok, melainkan warisan budaya yang seharusnya bisa diakses dan dinikmati masyarakat luas.
“Penggembokan secara paksa ini merugikan masyarakat dan juga mengganggu program konservasi,” tuturnya.
Penutupan akses dinilai menghambat upaya pelestarian bangunan bersejarah yang membutuhkan perawatan rutin dan keterlibatan banyak pihak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Mengenal Inesial F Umpan Cantik Pemikat Warga Amerika hingga Gasak Uang Rp41 Miliar
-
Kedok Pig Butchering Sukoharjo: Ini 5 Fakta Menarik Sindikat Kripto yang Kuras Rp41 Miliar Warga AS
-
Markas Pig Butchering Sukoharjo Digulung: 11 WNA Jadi Tersangka, Kuras Rp41,1 Miliar Milik Warga US
-
Aksi Nekat Maling di Kadipiro Gagal Total, Tim Sparta Polresta Solo Amankan Terduga Pelaku
-
Solo Disebut Urutan Kedua Kasus HIV/AIDS di Jateng, Ini Respon Respati Ardi