- Sengketa dana hibah Keraton Surakarta berpusat pada akuntabilitas pencairan, tidak boleh langsung diterima oleh Pakubuwono XIII.
- Konflik perebutan takhta melibatkan klaim Paku Buwono XIV oleh dua pihak, memperumit pengelolaan dana hibah keraton.
- Pengelolaan dana hibah kini berperan sebagai alat politik penting yang menentukan legitimasi kepemimpinan di masa depan keraton.
5. Dua Raja, Dua Legitimasi, Dua Dana
Di tengah sengketa takhta, dua sosok Paku Buwono XIV muncul dengan dua legitimasi yang berbeda. Pakubuwono XIV Hangabehi memilih jalan kaki menuju keraton sebagai simbol penerus yang sah, sedangkan Pakubuwono XIV Burboyo tiba dengan mobil.
Perbedaan cara ini memperkuat perpecahan di dalam keraton. Masing-masing pihak mengklaim memiliki legitimasi yang sah, namun dana hibah menjadi alat untuk legitimasi politik mereka.
6. Kekuatan Dana Hibah sebagai Senjata Politik
Dana hibah kini menjadi senjata politik dalam pertarungan untuk mempertahankan kekuasaan di keraton.
Pihak yang mendukung Paku Buwono XIV Purboyo melakukan rombak besar-besaran terhadap struktur keraton, menyatakan bahwa keraton harus bergerak maju dengan kepemimpinan baru yang tidak terikat pada drama lama.
Keputusan politik ini diambil untuk menegaskan bahwa keraton Surakarta akan terus berjalan ke depan, tanpa ada ruang untuk mereka yang terjebak dalam pertikaian masa lalu.
7. Dampak Pengelolaan Dana terhadap Masa Depan Keraton
Sengketa dana hibah ini memiliki dampak besar terhadap masa depan keraton. Dana hibah yang semula dimaksudkan untuk kesejahteraan keraton kini telah menjadi topik perdebatan politik yang memperburuk situasi.
Baca Juga: Putri Tertua PB XIII Tegaskan Bebadan Baru Tetap Tunduk Atas Dawuh PB XIV, Ini Tugas dan Fungsinya
Pengelolaan yang tidak transparan bisa merusak kredibilitas keraton dan memengaruhi pengakuan dari pihak luar. Dalam hal ini, pengelolaan dana menjadi simbol kepemimpinan yang sah dan legitimasi raja yang berkuasa.
Sengketa dana hibah di Keraton Surakarta adalah contoh nyata bagaimana politik, budaya, dan tradisi berinteraksi dan mempengaruhi masa depan institusi yang sangat dihormati ini.
Dalam perdebatan antara dua raja yang sah, siapa yang akan muncul sebagai pemimpin yang diakui oleh rakyat dan tradisi masih menjadi tanya besar. Yang pasti, dana hibah kini menjadi salah satu alat utama dalam permainan kekuasaan yang akan menentukan arah masa depan keraton Surakarta.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
Terkini
-
Perjuangan Ibu Balita Pengidap Penyakit Langka di Karanganyar, Bertahan Hidup dari Live TikTok
-
Terungkap! Teka-teki Pertemuan Tertutup Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan Jokowi
-
Grace Natalie Buka Suara Soal Permintaan Maaf Tersangka Ijazah: Terima, Tapi Hukum Harus Berjalan!
-
Perbandingan Honda Jazz 2019 vs Toyota Yaris TRD Bekas, Mana yang Lebih Oke?
-
Tersangka Kasus Ijazah Palsu Tiba-tiba Temui Jokowi Malam-malam, Ada Apa?