Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Sabtu, 05 April 2025 | 17:32 WIB
Ilustrasi pedagang bahan pokok. [Kontributor Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]

SuaraSurakarta.id - Harga bahan pokok di Kabupaten Boyolali, terjaga stabil selama momentum Lebaran 2025 karena lancarnya pasokan.

Salah satu pedagang bahan pokok Partini, mengatakan hampir seluruh jenis bahan pokok tidak mengalami kenaikan.

"Cuma telur ayam saja yang naik harga, dari Rp27.000/kg sebelum Lebaran sekarang menjadi Rp30.000/kg," ungkap Partini, Jumat (5/4/2025).

Ia mengatakan kenaikan terjadi secara bertahap. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk tetap membeli telur.

Baca Juga: Cek Pos Pam Ops Ketupat Candi, Kapolresta Solo Pastikan Pengamanan Arus Balik Lancar

"Soalnya kan buat bikin opor, jadi kebutuhan telur ayam tetap tinggi," jelas dia.

Meski demikian, sebagai pedagang sekaligus pengguna mengingat ia memiliki usaha katering, ia berharap agar harga telur ayam kembali turun.

"Kebetulan kalau setelah Lebaran begini pesanan untuk halal bihalal banyak. Kebanyakan ya menu daging ayam dan telur," katanya.

Untuk daging ayam, dikatakannya, stabil di harga Rp37.000/kg.

Beberapa komoditas pokok lain yang harganya juga relatif stabil, di antaranya beras premium Rp15.000/kg dan gula pasir Rp18.000/kg.

Baca Juga: Pasca-Lebaran 2025, Ekonomi RI Diprediksi Pulih Berkat Stabilitas Harga Pangan

Sedangkan beberapa komoditas yang stabil tinggi di antaranya cabai rawit merah Rp90.000/kg, cabai merah besar Rp70.000/kg, dan cabai keriting Rp70.000/kg.

Selanjutnya, harga bawang merah Rp50.000/kg dan bawang putih Rp47.000/kg.

Salah satu konsumen Purwani mengatakan senang karena harga tidak banyak mengalami kenaikan.

"Saya juga cabai nggak beli, cukup panen dari kebun depan rumah. Jadi ya lumayan irit," paparnya.

Di sisi lain, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga komoditas cabai tetap stabil sepanjang libur Lebaran 2025 dengan menjaga kestabilan pasokan dan mencegah fluktuasi harga di pasaran.

"Pemantauan yang dilakukan Direktorat Jenderal Hortikultura menunjukkan bahwa harga di tingkat petani tidak mengalami kenaikan signifikan, meskipun terjadi penurunan aktivitas pasar akibat momen libur panjang," kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan Andi Muhammad Idil Fitri.

Menurut Idil, aktivitas pasar cenderung menurun selama Lebaran karena sudah menjadi tradisi dimana banyak petani dan pedagang sayur berlibur atau bersilaturahmi dengan keluarga.

"Di Pasar Induk Jakabaring, Sumatera Selatan, suasana jual-beli terlihat lebih sepi dibanding hari biasa. Hal ini turut berdampak pada permintaan cabai yang menurun," ujarnya.

Idil menjelaskan bahwa fluktuasi harga cabai lebih disebabkan oleh fenomena tahunan sebelum dan sesudah Lebaran. Selama libur panjang, aktivitas di lapak dan pasar sayur menurun, karena banyak pedagang dan petani yang masih libur panen.

"Penurunan aktivitas di lapak sayuran menyebabkan pasokan berkurang sementara. Namun, ini hanya bersifat sementara, dan pasokan akan segera normal setelah libur Lebaran usai," terang Idil.

Dia menyebutkan, berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional per 4 April 2025, harga rata-rata cabai di tingkat produsen, antara lain cabai rawit merah Rp56.500 per kilogram (kg), cabai merah keriting Rp36.143 per kg, dan cabai merah besar Rp50.000 per kg.

Kementan memastikan pasokan cabai tetap tersedia dan tidak ada lonjakan harga di tingkat petani.

Menurutnya, petani champion dan mitra binaannya tetap aktif memasok cabai ke pasar, sementara aktivitas lelang cabai di sentra produksi seperti Magelang masih berlangsung seperti biasa.

"Jika ada kenaikan harga, itu hanya bersifat sementara. Insya Allah, H+7 Lebaran atau setelah libur bersama berakhir, pasokan dan harga cabai akan kembali normal," ucap Idil.

Sementara itu, petani champion Banjarnegara, Teguh yang rutin memasok cabai ke Pasar Jakabaring Palembang, mengonfirmasi harga cabai merah keriting masih berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per kg, namun jumlah pasokan yang dikirimkan berkurang drastis. [ANTARA]

Load More