Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Rabu, 19 Oktober 2022 | 16:10 WIB
Frans Setiabudi (duduk, paling kanan), Hong Widodo (berdiri, kedua dari kanan), Sie Kingtjong (berdiri, kedua dari kiri) dan Kwa Biek Tjong (berdiri, ketiga dari kanan) menjadi beberapa pemain keturunan Tionghoa di Persis Solo saat menjuarai kompetisi level Jawa Tengah, 1968/1969. [Dok]

“Untungnya saya diselamatkan salah satu pemain lawan. Dia memberitahu saya agar segera pulang ke Solo,” kenang kakek tiga cucu itu.

Sentimen terhadap etnis Tionghoa ditambah penghasilan yang jauh dari cukup membuat Wewek gantung sepatu pada 1976.

Dia memilih berlayar, meninggalkan mimpi meraih trofi nasional bersama Persis. Setelah itu, eksistensi pesepakbola keturunan Tionghoa di Kota Bengawan berangsur pudar.

Pada periode 1980-an, praktis hanya Isnugroho pemain keturunan Tionghoa yang tersisa di Persis. Kerusuhan antaretnis yang kembali terjadi pada 1980 dan 1998 membuat regenerasi pesepakbola profesional keturunan Tionghoa di Solo hingga nasional kian buram.

Baca Juga: Viral! Koh Steven Telah Mengislamkan 63 Ribu Orang, Al Jazeera Menyebutkan Hal Itu

Padahal, etnis Tionghoa memiliki sejarah panjang di sepak bola Indonesia. Pada 1905, mereka mewarnai perkembangan sepak bola dengan membikin klub Union Makes Strength (UMS).

Sejumlah pemain keturunan Tionghoa seperti seperti Tan Hong Djien, Tan Mo Heng, dan Tan See Handi bahkan berperan membawa Indonesia (dulu masih bernama Hindia Belanda) tampil di Piala Dunia 1938 Perancis. Kemudian muncul Tan Liong Houw, salah satu pemain kunci yang meloloskan Indonesia hingga perempat final Olimpiade 1956 Australia.

Pemersatu

Michael Novaldo (berdiri, ketiga dari kanan) dan Dilon Gustafiano (berdiri, ketiga dari kanan) bersama rekan-rekan dan pelatih saat mengikuti latihan SSB Tunas Nusa Harapan (TNH) di Lapangan Karangasem, Laweyan, Solo, beberapa waktu lalu. [dok]

Meski diskriminasi rasial kini sudah jauh berkurang, tak serta merta regenerasi pesepakbola keturunan Tionghoa kembali moncer.

Bayang-bayang luka lama membuat para orangtua dari kalangan Tionghoa masih enggan mendorong anaknya bergelut di olahraga tersebut. Selain itu, sepak bola masih lekat dengan kerusuhan sehingga membuat mereka memilih olahraga lain yang lebih “aman” seperti basket dan bulutangkis.

Baca Juga: Cerita Djoko Wahyudi Teman SMA Presiden Jokowi, Ijazahnya Pernah Ditawar Rp10 Miliar

“Sepak bola masih berisiko bagi minoritas seperti kami. Namun bukan berarti kami tak punya peluang lagi (di sepak bola),” lanjut Wewek.  

Load More