SuaraSurakarta.id - Pemkab Klaten belum menentukan apakah akan membuka pasar hewan lagi setelah ditutup 14 hari.
Seperti diketahui seluruh pasar hewan di Kabupaten Klaten ditutup sementara selama 14 hari mulai 25 Mei 2022 hingga 7 Juni 2022 ini.
Penutupan sementara ini karena ditemukan adanya enam kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan 63 suspek pada hewan ternak.
"Hari ini sudah buat kajian dan evaluasi. Dari hasil kajian dan evaluasi ini sudah kita diserahkan ke pimpinan (bupati) untuk dipelajari dan diambil kebijakan selanjutnya," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, Widiyanti, Senin (6/6/2022).
Widiyanti menjelaskan, belum bisa memastikan dan menjawab apakah pasar hewan akan dibuka lagi atau ditutup.
Karena bupati sedang mencermati hasil kajian dan evaluasi yang sudah disusun dari kasus per kasus yang ada.
"Jadi saya belum bisa menjawab. Ini masih dicermati sama bupati untuk diambil satu keputusan," katanya.
Menurutnya, dari hasil evaluasi itu tercatat per 5 Juni kemarin kasus suspek bertambah jadi 441 ekor, sedangkan yang terkonfirmasi sudah sembuh.
Dari kasus kemarin setelah dicek per kasus di setiap wilayah yang muncul kasus rata-rata adanya ternak masuk baru dalam satu populasi tersebut.
Baca Juga: Apa itu Kasus PMK Sapi? Penyakit Menular Menyerang Hewan Ternak di Indonesia
Ternyata ternak baru ini, sekitar 67 persen berasal dari pasar hewan baik dalam daerah atau luar daerah. Sedangkan 32 persen ini karena penularan, di satu lokasi sudah ada kasus kemudian menular kepada yang lain.
"Ini yang jadi pembahasan pimpinan untuk diambil satu kebijakan. Pedagang itu kan ada yang beli dari luar Klaten, kita investigasi setiap ada kasus, ini asal usulnya dari mana dan kapan," ungkap dia.
Untuk antisipasi adanya kasus, lanjut dia, meminta warga atau peternak khususnya di daerah yang belum terpapar virus untuk tidak memasukan ternak baru.
Karena tidak tahu apakah ternak baru itu sudah terpapar virus atau belum. Karena kasus-kasus yang ada sebelum penutupan pasar, saat diperiksa oleh dokter hewan belum menunjukkan tanda-tanda klinis ternyata ada yang membeli sehingga masuk masuk ke pasar hewan.
Namun, tiga hari kemudian laporan kalau ternaknya sakit.
"Kami sudah menghimbau jangan memasukan ternak baru di kandang. Kalau ada yang menawarkan dengan harga yang murah, jangan dulu karena takutnya ternak itu sudah terpapar virus sehingga ternak di rumah bisa menularkan ternak yang lain," paparnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Angka Pengangguran di Kota Solo Lebih Tinggi dari Daerah di Soloraya, Capai 13,5 Ribu Jiwa
-
Ditjen Hubla Kemenhub Digugat ke PTUN Jakarta Terkait Konsesi Alur Mahakam
-
Kejagung Tinjau Masjid Sriwedari Solo yang Mangkrak sejak 2021, Pembangunan Bakal Dilanjutkan?
-
Terungkap Kasus Penimbunan Solar Subsidi Ilegal di Klaten, Omzet Pelaku Rp200 Juta per Bulan
-
Melihat Masa Depan Fintech Indonesia Melalui Karya Pemenang FutureFin AdaKami dan UNS