Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Selasa, 12 April 2022 | 18:21 WIB
Bedug Kyai Wahyu Tengara Masjid Agung Solo. [Suara.com/Ari Welianto]

"Sebetulnya kalau di kelengkapan gamelan pada tradisi Hindu itu bedug tidak ada, adanya gong. Kalau Islam itu adanya rebana tapi kecil," kata dia.

Menurutnya, ini terinspirasi dari tradisi Islam rebana yang Kemudian dibuat yang lebih besar.

Di mana dibuat dari kayu yang dilubangi dan kulit sapi lalu digantung di serambi masjid.

"Kulitnya sudah beberapa kali diganti, terakhir 5 tahun lalu oleh orang keraton yang berkebangsaan Jepang. Untuk kayunya masih asli tapi sudah dipotong karena kerowak, sebenarnya agak lebih besar," ungkapnya.

Baca Juga: Viral Ustaz Yazid Sebut Menabuh Bedug Haram: Tak Ada Hubungan dengan Ajaran Islam

Bedug Kyai Wahyu Tengara ini juga sebagai kelengkapan setelah adzan biar nyaring. 

Jadi setelah adzan waktu shalat selesai lalu ditabuh bedug untuk memanggil jamaah buat datang ke masjid. 

"Jadi ini juga kelengkapan setelah adzan. Selalu ditabuh saat memasuki waktu shalat," sambungnya.

Untuk nama bedug Kyai Wahyu Tengara ini.

Karena orang-orang keraton itu menamakan sesuatu yang dimuliakan dengan nama kyai.

Baca Juga: Heboh! Ustaz Yazid Sebut Menabuh Bedug di Masjid Haram: Kebiasaan Orang Kafir, Biasa Digunakan untuk Memanggil Roh

"Bedug ini diberi nama Kyai Wahyu Tengara untuk menandai panggilan wahyu Allah, yakni shalat. Biasanya dibuat sepasang, karena keraton itu kalau buat sesuatu pasti sepasang," jelas dia.

Load More