Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Jum'at, 18 Maret 2022 | 16:50 WIB
Penjual sedang menggoreng sejumlah jajanan di kedainya. [Suara.com/ari welianto]

SuaraSurakarta.id - Pemerintah telah mencabut kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng.

Harga minyak goreng kemasan akan menyesuaikan nilai keekonomian. Maka itu berdampak pada naiknya harga minyak goreng, karena tidak lagi disubsidi oleh pemerintah.

Kondisi itu berdampak pada masyarakat kecil yang memiliki usaha. Mereka sangat keberatan dengan mahalnya harga minyak goreng di pasaran.

"Jelas keberatan dan susah pastinya. Apalagi semua bahan naik, kayak tepung, telor," ujar Penjual Kue Moho Lawang Pintu Gapit Baluwarti, Sri Murwatiningsih (57) saat ditemuai, Jumat (18/3/2022).

Baca Juga: Negara dengan Harga Minyak Goreng Termurah, Satu Liter Cuma Rp8.500

Ia, menjual lima macam makanan, yakni jangkelut, onde-onde, bolang baling, moho, dan donat. Itu pakai minyak goreng kecuali moho.

Sri menjelaskan, terakhir beli minyak goreng curah masih dihitung seharga Rp16 ribu perkilogram oleh bakul yang kulakan di Pasar Legi. Tidak tahu besok mau dihitung dengan harga berapa, karena memang sudah naik.

"Tidak apa-apa kemarin masih dihitung Rp16 ribu perkilogram, yang penting dapat dan tidak antri. Tidak tahu nanti dapat harga berapa. Saya pakai yang curah, kalau pakai kemasan jelas akan merugi," papar warga RT 01 RW 04 Wirengan, Baluwarti ini.

Dirinya sudah diberi informasi dari penjual minyak minyak jika beberapa hari tidak dapat minyak subsidi.

"Saya itu belinya perkilo. Kalau kemarin dikasih harga Rp 16.000 perkilo, mungkin nanti bisa Rp18 ribuhingga Rp20 ribuper kilogram," imbuh dia.

Baca Juga: Pedagang di Pasar Banyuwangi Ini Pilih Jual Murah saat Harga Minyak Goreng Meroket, Alasannya Bikin Terenyuh

Untuk tiap produksinya, satu hari kebutuhannya itu 20 kilo minyak goreng. Itu kalau dinominalkan sebesar Rp320 ribu, kalau itu nanti naik bisa sampai Rp400 ribulebih kebutuhan perharinya. 

"Pengaruhnya keuntungannya lebih berkurang. Tambah ngeri, sempat berpikiran tidak jual gorengan, jual kue moho saja yang dikukus," sambungnya.

Ia pun hanya bisa pasrah dengan harga minyak goreng saat ini. Untuk tetap bisa berjualan, ia mengurangi takaran jadi lebih kecil sedangkan harga masih tetap Rp 2.000.

Karena harga saat pandemi kemarin sudah naik dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.000. Kalau mau dinaikan lagi jelas tidak mungkin, karena yang beli juga kebanyakan warga kelas bawah.

"Takaran saya kurangi lebih kecil. Untuk sekarang produksinya dibatasi, awalnya buat 30 kilo perhari jadi 25 kilo," ucap dia.

Ia berharap ada perhatian dari pemerintah, karena jelas masyarakat kelas bawah sangat menjerit. Apalagi saat harganya murah stok minyak goreng langka, tapi saat harga naik malah stok banyak.

"Harapannya harga jangan terlalu tinggi dan mencari mudah, tidak usah sampai antri," tuturnya.

Hal senada juga disampaikan penjual gorengan pohung di sebelah barat SMA 7 Solo, Edi Kristiono (48) yang keberatan dengan naiknya harga minyak goreng. 

Penjual asal Klaten ini hanya bisa mengurangi porsi saja dan itu tergantung dari pembeli.

"Itu untuk menutupi kekurangan minyak. Harga tetap sama, hanya mengurangi porsi saja, kalau naik berdampak pada pelanggan," terangnya.

Satu hari itu biasanya membutuhkan 34 kilo minyak goreng atau Rp520 ribu. Kalau harganya naik, bisa lebih banyak lagi uangnya.

"34 kilogram itu dibagi dua jeriken yang masing-masing isinya 17 kilogram. Tambah susah kondisinya," ujar Edi.

Ia bahkan sempat tidak dapat minyak, akhirnya hanya pakai satu jerigen sisa kemarin. Cuma satu hari, hari berikutnya bisa dapat.

"Sekarang mudah, dulu susah nyarinya dan sempat tidak dapat minyak. Untuk besoknya dapat minyak," terang dia.

Edi berharap, kalau bisa harga minyak goreng menurun atau stabil. Tidak sulit juga dipasaran, ini yang menjadi perhatian pemerintah.

Kontributor : Ari Welianto

Load More