Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Rabu, 16 Maret 2022 | 18:21 WIB
Replika Perahu Rajamala milik Keraton Kasunanan Surakarta yang ada di kawasan Pasar Kliwon. [Suara.com/Ari Welianto]

Saat membelah Sungai Bengawan Solo, bahtera yang dengan susah payah digulirkan ke air diiringi nyanyian sebagai berikut: 

Jamala, jamala sikile sewu/Jamala, jamala sikile sewu/Jamala sikile sewu/laa ilaaha illallah...

Oyode, oyode suluring ati/Oyode, oyode suluring ati/Oyode suluring ati/laa ilaaha illallah dan seterusnya.

Kanjeng Nuky mengatakan, Perahu Rajamala yang besar ini pernah dipergunakan untuk menjemput Putri Bupati Madura Cakraningrat di Sumenep.

Baca Juga: Kepri Gagal Tarik Retribusi Labuh Jangkar, Pemerintah Pusat yang Berwewenang

Perjalanannya itu melintasi Sungai Bengawan Solo, Sungai Brantas, Laut Utara Jawa hingga Selat Madura. 
Sinuhun PB X ini. Di mana penggunaannya masih didayung.

"Dulu pernah dipakai untuk menjemput Putri Bupati Madura Cakraningrat di Sumenep," sambungnya. 

Kanjeng Nuky menjelaskan, dalam pewayangan, Rajamala merupakan putri Dewi Rara Amis dengan Begawan Palasara. 

Dewi Rara Amis yang berkulit kudis ini meninggalkan keraton dan ketika ketemu dengan Palasara diobati serta dinikahi.

Setelah menikah lahirlah Rajamala. Rajamala sendiri merupakan sosok yang sakti mandraguna, bila dalam pertarungan sekarat. 

Baca Juga: Holding BUMN Jasa Survei Awasi Pembuatan Kapal Pandu Buatan Indonesia

Lalu diperciki air maka akan segar dan bertarung lagi. Simbol kesaktian Rajamala inilah yang tercermin dalam perahu milik Keraton Kasunanan Surakarta

Load More