SuaraSurakarta.id - Tidak semua orang siap menjalani hubungan ke jenjang pernikahan. Namun, ada banyak hal yang bisa dipelajari, agar hubungan dengan pasangan pasca menikah bisa berjalan baik.
Menyadur dari Solopos.com, keterampilan sebelum menikah ini sebaiknya bukan hanya dikuasai oleh kaum perempuan, melainkan kaum lelaki juga menguasainya. Bila perlu Anda berdua sebagai calon pengantin melatih terlebih dulu kemampuan ini.
Keterampilan yang harus dikuasai ini sebelum menikah ini sangat bermanfaat agar perkawinan harmonis. Karena dalam mengarungi bahtera rumah tangga, pasti ada sejumlah konflik atau permasalahan yang harus dihadapi pasangan suami istri.
Berikut ini keterampilan yang harus dikuasai sebelum menikah:
1. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik
Keterampilan yang harus dikuasai sebelum menikah adalah komunikasi yang baik. Anda dan pasangan harus tahu bagaimana mengekspresikan kebutuhan sendiri dan membicarakan kebutuhan orang lain. Sebelum menikah, cobalah untuk mengenal diri sendiri dengan baik. Biasakan untuk berbicara dengan teman dan keluarga tentang apa yang Anda butuhkan dan terbuka tentang kebutuhan dan keinginan Anda. Jika Anda merasa nyaman dengan percakapan semacam ini, keterampilan komunikasi akan lebih mudah digunakan setelah Anda menikah.
2. Kompromi
Banyak orang akan memberi tahu Anda bahwa kompromi adalah bagian dari pernikahan. Ini benar, tentu saja, tetapi Anda perlu tahu kapan kompromi boleh dilakukan. Anda tidak boleh mundur atau berguling pada setiap masalah. Anda tidak boleh berkompromi pada hal-hal yang Anda butuhkan untuk bahagia. Jika Anda tidak menginginkan anak, Anda tidak boleh memiliki anak yang tidak ingin Anda miliki dan akhirnya menyesalinya nanti.
Ini kembali ke mengenal diri sendiri. Jika Anda tahu apa yang benar-benar penting bagi Anda, akan lebih mudah untuk memahami hal-hal apa yang dapat Anda kompromikan dan apa yang tidak. Anda juga harus ingat bahwa kompromi berarti kedua belah pihak terlibat. Kompromi tidak berarti satu orang selalu menyerah dan yang lain selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan.
3. Mengatasi konflik
Pernikahan jarang menjadi hubungan yang sempurna seperti yang Anda baca atau lihat di film. Faktanya, tidak ada pernikahan yang sempurna. Setiap pernikahan pasti memiliki konflik. Ini bisa tentang masalah yang lebih kecil seperti siapa yang mencuci piring atau apa yang Anda makan untuk makan siang.
Konflik juga bisa mengenai beberapa masalah yang cukup besar, seperti apakah akan pindah ke luar negeri untuk pekerjaan baru pasangan. Resolusi konflik terkait dengan komunikasi. Jika Anda tidak dapat berkomunikasi dengan baik, akan sulit untuk menyelesaikan konflik. Pelajari tentang berbagai jenis konflik dan cara mengatasinya.
Baca Juga: 9 Artis Menikah dengan Pria Lebih Muda, Bukti Cinta Tak Kenal Usia
4. Menentukan batas
Batas adalah sesuatu yang harus dimiliki setiap orang, bahkan ketika mereka sudah menikah. Batasan dapat mencakup bagaimana Anda melakukan percakapan, kapan Anda menangani konflik, atau aktivitas apa yang dapat diterima di kamar tidur. Yang penting untuk diingat adalah bahwa setiap individu diperbolehkan untuk menetapkan batasan mereka sendiri dan orang lain dalam pernikahan perlu menghormatinya. Anda harus menyadari batasan pasangan Anda dan berhati-hati untuk tidak melewatinya. Keterbatasan ini seringkali bersifat pribadi.
Mereka mungkin berasal dari interaksi yang mereka miliki dalam hubungan masa lalu atau mereka mungkin berasal dari ketakutan. Sebelum Anda menikah, dorong pasangan Anda untuk memikirkan dan membicarakan batasan-batasan mereka. Anda harus melakukan hal yang sama.
5. Menunjukkan cinta dan penghargaan
Setelah menikah, Anda tetap perlu menunjukkan cinta dan penghargaan kepada pasangan. Terlalu sering, orang sibuk dengan kehidupan dan lupa bahwa pasangannya perlu merasakan cinta, perhatian, dan dihargai. Mengabaikan untuk menunjukkan cinta Anda untuk pasangan Anda dapat mengakibatkan banyak perasaan terluka dan kesalahpahaman. Ketika Anda menunjukkan cinta dan penghargaan kepada pasangan Anda, Anda memvalidasi perasaan mereka dan membuatnya merasa penting bagi Anda.
Anda dapat memvalidasinya dengan banyak cara. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan berada di sana. Ketika mereka memiliki masalah atau kekhawatiran, apakah Anda meluangkan waktu untuk duduk dan benar-benar mendengarkan mereka atau apakah Anda mengabaikannya dan memberi tahu mereka bahwa Anda akan membicarakannya “nanti” dan kemudian tidak pernah datang?
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Sampah Pasar Malam Sekaten Menumpuk di Alun-alun Kidul Keraton Solo
-
Tuntas Direnovasi, 10 Warga Wonogiri Kini Dapatkan Rumah Sederhana Layak Huni
-
BRI Raih Bakti Koperasi Pradana Nayaka, Tegaskan Komitmen Ekonomi Kerakyatan
-
Konflik Keraton Solo: Berebut Gamelan Sekaten Berujung Laporan Polisi, Abdi Dalem Ngaku Dikeroyok
-
Panas! Keraton Solo Gelar Dua Kirab Grebeg Mulud Sekaligus, Kubu Purboyo Ungkap Dugaan Sabotase