SuaraSurakarta.id - Kasus ancaman kekerasan terhadap tenaga kesehatan (Nakes) RSUD Ngipang Kota Solo terus didalami oleh pihak kepolisian.
Polresta Solo memberikan waktu kepada pihak yang bermasalah dalam kasus kekerasan terhadap nakes RSUD Ngipang, Kota Solo menyelesaikan secara kekeluargaan, sebelum kasus tersebut masuk ke ranah hukum.
“Apabila nanti ada kesepakatan, dari pelaku mau mengakui kesalahan, meminta maaf, berjanji tidak mengulangi, kemudian dari korban berlapang dada, mau memaafkan. Sehingga, tidak sampai ke ranah hukum,” terang Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak dilansir dari Timlo.net, Kamis (29/7/2021).
Pihaknya bersedia memfasilitasi proses Restorative Justice (RJ) terhadap kasus tersebut apabila sudah ada kesepakatan damai antar kedua belah pihak. Kasus penolakan seperti ini, lanjut Ade, baru pertama terjadi di Kota Bengawan. Dia berharap kedepan tidak ada kasus serupa terjadi.
“Dalam kasus ini kita lapisi juga dengan undang-undang wabah penyakit menular karena yang dilakukan pelaku melakukan pertentangan, dan itu sangat berbahaya dalam menanggulangi pemutusan angka persebaran Covid-19,” jelasnya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Solo AKP Djohan Andika menuturkan, sedikitnya lima orang saksi sudah dipanggil pihak kepolisian guna dimintai keterangannya terkait kejadian yang terjadi.
“Kemarin yang bersangkutan kita beri kesempatan untuk menyelesaikan pemakaman istirnya, Kemudian yang bersangkutan harus swab dulu, setelah hasilnya negatif, baru kita lanjutkan untuk penyelidikan yang bersangkutan,” katanya.
Seperti diketahui, Kamis (22/7) pekan lalu, pihak kepolsian mendapat laporan dari rumah sakit milik Pemkot Solo ini bahwa salah satu Nakesnya mendapat ancaman dari keluarga pasien Covid-19 yang meninggal di RS tersebut.
Tak berhenti sampai di situ, J juga membohongi salah satu driver ambulans. Dimana dia minta bantuan guna mengangkut jenasah sang istri dari rumahnya yang berada di Sawahan, Ngemplak, Boyolali ke Blora. J mengatakan kepada driver kalau status sang istri meninggal non-Covid.
Baca Juga: Gibran Nekat Sambangi Zona Merah Usai Terpapar Covid-19, Alasannya Bikin Baper
Ketika driver dari Relawan Persatuan Driver Ambulace Solo Raya (PEDAS) tiba disana baru diketahui kalau ternyata sang istri meninggal karena covid. Mengetahui hal tersebut sang driver tidak berani mengakut jenasah istri J. Jenasah istri J sendiri akhirnya dimakamkan di TPU Setempat setelah J dibujuk sang kakak.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Holding Ultra Mikro 5 Tahun, Jutaan UMKM Makin Berdaya
-
Mantan PMI Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon hingga Jantung Kota Taipei
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Dukung Diaspora dan PMI, BRImo Taiwan Raih Penghargaan Inovasi Indonesia 2026
-
Masa Demo di Depan Rumah Jokowi, Serahkan Surat Peringatan dan Plakat Bertuliskan Filosofi Jawa