SuaraSurakarta.id - Meski saat ini zaman sudah modern namun aktivitas pandai besi masih tetap bertahan dan eksis di Pasar Gawok, Kabupaten Sukoharjo. Mereka masih menggunakan tenaga dan alat tradisional saat membuat berbagai peralatan, seperti cangkul, pisau, golok, kapak, atau clurit.
Mereka juga masih memakai panas dari arang untuk memanaskan besi atau logam. Setelah besi dan logam panas kemudian dipukul memakai palu, biasanya yang memukul dua orang secara bergantian.
Dari pandai besi yang ada di Pasar Gawok, ada yang sudah dilakukan turun temurun. Bahkan melakukannya bersama-sama antara bapak dan anak.
"Saya sudah 25 tahun terjun sebagai pandai besi. Di sini bersama bapak saya," ujar Rahmadi saat ditemui di Pasar Gawok, Sukoharjo, Minggu (6/6/2021).
Ia terjun sebagai pandai besi belajar dari bapak dan menggantikannya di Pasar Gawok. Diberitahu caranya dan melihat langsung saat bapak atau yang lain sedang membuat berbagai peralatan.
"Saya belajar dari bapak, sampai saat ini masih sering melihat. Memang ini sudah turun temurun dari kakek saya," ungkap warga Delanggu, Klaten ini.
Dulu sering ikut bapak bekerja di Pasar Gawok. Lama-lama menemani bekerja di pasar hingga saat ini, kadang gantian saat membuat berbagai peralatan.
"Di rumah juga buat, jadi tidak hanya di pasar saja. Kan di pasar tidak setiap buka, bukanya itu tiap pasaran Pon, Legi, dan hari Minggu," kata dia.
Kalau pasar tutup bukanya di rumah, perajin yang lain juga sama. Dari ketiga hari pasar tersebut paling ramai itu pas Pon, karena Pasar Gawok ini terkenalnya pasar Pon.
Baca Juga: Hati-hati, Seminggu Terakhir Muncul 10 Klaster Keluarga di Sukoharjo
"Minggu ramai juga tapi tidak seramai Pon. Pembeli juga sekarang tidak ramai, mungkin ada yang terbuat dengan alat modern," sambungnya.
Perajin lain M. Kusno sudah menjadi pandai besi 40 tahun dan ini juga turun temurun dari bapaknya. Kalau jualan atau pindah di Pasar Gawok sudah 30 tahun.
"Saya baru pindah disini (pasar-red) 30 tahun lalu, kalau jadi pembuat besi sudah 40 tahun," terang dia.
Untuk membuat berbagai peralatan alat yang dipakai sederhana. Alatnya itu seperti palu besar buat mukul, arang buat memanaskan logam dan besi yang dipukul agar tipis atau berlubang.
Menurutnya, dari segi kualitas jelas berbeda dan bertahan lama. Karena dibuat secara manual.
"Sudah jadi keahlian. Kalau bekerja ditemani anak, kalau sendiri repot karena butuh tenaga," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Dari UMKM hingga Pekerja Migran, Ini 8 Kontribusi BRI untuk Indonesia
-
Hujan Uang di Klaten! Pengunjung Rebutan Segepok Rupiah dari Atas Flying Fox
-
BRI Peduli Respons Cepat Gempa Flores, Bantuan Disalurkan ke Maumere dan Mbay
-
Keren! Warga Nguter Sukoharjo Buat Replika Menara Eiffel Setinggi 23 Meter dari Ratusan Bambu
-
Transformasi Digital BRI Bersama Danantara, BRImo Layani 49,7 Juta Pengguna